HRW Tolak Klaim Myanmar soal Rohingya

Washington, MINA – Human Right Watch (HRW) menolak klaim Myanmar yang menyatakan bahwa “tidak ada bukti” angkatan bersenjatanya telah memperkosa wanita Rohingya.

Awal pekan ini, pemerintah Myanmar menyerahkan laporan kepada PBB tentang situasi perempuan dan anak perempuan di Rakhine bagian utara. Dalam laporan itu, Myanmar mengatakan tidak ada tindakan pemerkosaan yang dilakukan oleh tentara.

Anadolu Agency (AA) melaporkan, Sabtu (9/2) bahwa HRW menyebut laporan yang diserahkan Myanmar ke PBB sebagai sebuah penyangkalan yang bohong untuk menutupi kebenaran yang sangat menyakitkan.

Pada akhir 2017 lalu, Komite PBB tentang Penghapusan Diskriminasi lagi Perempuan (CEDAW) meminta Myanmar menyerahkan laporan tentang situasi perempuan dan anak perempuan di Rakhine, di mana ribuan minoritas Muslim Rohingya dibunuh.

HRW menegaskan bahwa mereka bersama sejumlah lembaga hak asasi manusia lainnya, media dan kelompok independen yang dibentuk PBB “mengungkap kisah mengerikan tentang kejahatan kemanusiaan di wilayah itu.

“Ratusan perempuan dan gadis Rohingya diperkosa. Saya berbicara dengan banyak dari mereka. Mereka trauma untuk menceritakan kisah mereka. Seorang anak perempuan berusia 15 tahun, misalnya, mengatakan tentara menyeretnya keluar dari rumahnya, mengikatnya ke pohon dan kemudian memperkosanya,” ungkap Skye Wheeler, seorang peneliti HRW di divisi hak-hak wanita.

Rohingya, yang digambarkan oleh PBB sebagai wilayah yang paling teraniaya di dunia, telah menghadapi ketakutan akan serangan sejak belasan orang terbunuh dalam kekerasan komunal pada 2012 lalu.

Menurut Amnesty International, lebih dari 750 ribu pengungsi Rohingya, sebagian besar wanita dan anak-anak, melarikan diri dari Myanmar dan menyeberang ke Bangladesh setelah pasukan Myanmar melancarkan penumpasan terhadap komunitas Muslim minoritas pada Agustus 2017.

Sejak 25 Agustus 2017, hampir 24 ribu Muslim Rohingya telah dibunuh oleh pasukan negara Myanmar, menurut sebuah laporan oleh Ontario International Development Agency (OIDA).

OIDA dalam laporannya berjudul “Paksa Rohingya Migrasi: Pengalaman yang Tak Terungkap”, mengungkapkan, lebih dari 34 ribu Rohingya juga dilemparkan ke dalam api, lebih dari 114 ribu lainnya dipukuli.

Laporan itu menambahkan, sekitar 18 ribu perempuan dan gadis Rohingya diperkosa oleh tentara dan polisi Myanmar dan lebih dari 115 ribu rumah Rohingya dibakar dan 113 ribu lainnya dirusak.

Kelompok independen yang dibentuk PBB juga telah mendokumentasikan pemerkosaan massal, pembunuhan -termasuk bayi dan anak kecil- pemukulan brutal dan penghilangan yang dilakukan oleh tentara Myanmar.

Dalam sebuah laporan, penyelidik PBB mengatakan pelanggaran seperti itu merupakan kejahatan terhadap kemanusiaan. (T/R06/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)