Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Isra Mi’raj dan Perjuangan Pembebasan Masjid Al-Aqsa

Ali Farkhan Tsani Editor : Widi Kusnadi - Kamis, 8 Januari 2026 - 05:25 WIB

Kamis, 8 Januari 2026 - 05:25 WIB

35 Views ㅤ

Ilustrasi Isra Mi'raj (gomhuriaonline)

SETIAP kali peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pada bulan Rajab hadir di tengah umat Islam, hati kaum beriman kembali disapa oleh firman Allah Subhanahu wa Ta‘ala:

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ ءَايَاتِنَا إِنَّه هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

“Mahasuci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya, agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sungguh, Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.” (Q.S. Al-Isra: 1).

Ayat ini bukan sekadar pembuka surah, melainkan pengukuh iman. Ia mengabarkan peristiwa agung yang melampaui batas nalar manusia, namun menjadi fondasi keyakinan umat Islam sepanjang zaman.

Baca Juga: Pejuang Media: Jihad dengan Suara dan Tulisan di Era Kompetisi Global

Isra dan Mi’raj adalah mukjizat Ilahi, tanda-tanda kebesaran Allah yang diperlihatkan kepada hamba-Nya. Sebuah peristiwa luar biasa dalam sejarah peradaban manusia yang wajib diimani tanpa ragu.

Pada malam yang penuh cahaya itu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam diperjalankan dari Masjidil Haram di Makkah menuju Masjidil Aqsa di Palestina, lalu dinaikkan menembus lapisan-lapisan langit hingga Sidratul Muntaha. Jarak ribuan kilometer ditempuh hanya dalam sepertiga malam, sebuah kenyataan yang kala itu menjadi bahan ejekan kaum kafir Quraisy, di zaman ketika manusia bahkan belum mengenal teknologi penerbangan.

Semua ejekan kaum kafir itu dibantah oleh Abu Bakar, dengan statemennya yang sangat menghentak, “Jangankan soal Isra Mi’raj, lebih dari itupun kalau yang menbatakan Rasulullah, saya akan langsung percaya!”

Ya, Abu Bakar adalah orang pertama yang langsung percaya sepenuhnya pada peristiwa Isra Miraj Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, ketika banyak orang lain yang meragukannya. Karena keimanannya yang teguh membuatnya percaya pada setiap perkataan Nabi, beliau pun mendapat gelar Ash-Shiddiq (yang membenarkan). Itu menunjukkan iman yang tak bersyarat.

Baca Juga: Konser Andrea Bocelli antara HAM dan Pembelaan terhadap Palestina

Adapun di balik kedahsyatan mukjizat Isra Mi’raj, tersimpan hikmah yang sangat dalam: dipilihnya Masjidil Aqsa sebagai titik persinggahan perjalanan suci Nabi. Allah sendiri yang mengikat Masjidil Haram dan Masjidil Aqsa dalam satu rangkaian wahyu. Ini adalah penegasan Ilahi bahwa Al-Aqsha bukan tanah biasa, melainkan tanah yang diberkahi:

Karena itulah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sangat menganjurkan umatnya untuk melakukan perjalanan ke Masjidil Aqsa, selain ke Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Anjuran ini bukan semata perjalanan fisik, tetapi perjalanan iman, peneguhan aqidah tentang kemuliaan, keutamaan, dan kedudukan Masjidil Aqsa dalam Islam.

Masjidil Aqsa adalah amanah keimanan. Keberadaannya menuntut perhatian, pembelaan, dan penjagaan dari seluruh kaum Muslimin. Umat Islam tidak boleh berpaling, apalagi lalai, ketika masjid suci ini berada dalam cengkeraman penjajahan yang zalim.

Hari ini, Masjidil Aqsa dan tanah Palestina masih berada di bawah penjajahan Zionis Yahudi. Sebuah penjajahan yang bertentangan dengan nilai keadilan dan kemanusiaan. Padahal Allah telah memperingatkan tentang kerusakan dan kezaliman yang akan terjadi di bumi suci tersebut:

Baca Juga: Harapan Perdamaian untuk Arab Saudi dan Houthi

وَقَضَيْنَآ اِلٰى بَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَ فِى الْكِتٰبِ لَتُفْسِدُنَّ فِى الْاَرْضِ مَرَّتَيْنِ وَلَتَعْلُنَّ عُلُوًّا كَبِيْرًا ۝٤

“Dan telah Kami tetapkan terhadap Bani Israil dalam Kitab itu: ‘Sungguh, kamu pasti akan membuat kerusakan di bumi dua kali, dan pasti kamu akan berlaku sangat sombong.’” (Q.S. Al-Isra: 4).

Masjidil Aqsa pada hakikatnya adalah hak milik sah umat Islam. Kesadaran ini harus disosialisasikan dan ditanamkan ke seluruh lapisan umat, agar tumbuh satu kesadaran kolektif, satu niat, dan satu tujuan: membebaskan Masjidil Aqsa yang begitu mulia.

Penjajahan Zionis Yahudi beserta sekutu-sekutunya terus mencederai kehormatan Al-Aqsa. Ia dijadikan panggung pelanggaran Hak Asasi Manusia yang kejam, penguasaan paksa, pembakaran, pelarangan shalat, pembunuhan, penangkapan ulama dan penjaga masjid, hingga rencana merobohkan Masjidil Aqsa melalui terowongan-terowongan rahasia.

Baca Juga: Masjid Al-Aqsa, Kiblat Pertama, Arah Sujud yang  Mengikat Hati Orang Beriman

Padahal Allah dengan tegas mengecam tindakan menghalangi ibadah dan merusak rumah-Nya:

وَمَنْ اَظْلَمُ مِمَّنْ مَّنَعَ مَسٰجِدَ اللّٰهِ اَنْ يُّذْكَرَ فِيْهَا اسْمُهٗ وَسَعٰى فِيْ خَرَابِهَاۗ اُولٰۤىِٕكَ مَا كَانَ لَهُمْ اَنْ يَّدْخُلُوْهَآ اِلَّا خَاۤىِٕفِيْنَ ەۗ لَهُمْ فِى الدُّنْيَا خِزْيٌ وَّلَهُمْ فِى الْاٰخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيْمٌ

“Siapakah yang lebih zalim daripada orang yang melarang masjid-masjid Allah digunakan sebagai tempat berzikir di dalamnya dan berusaha merobohkannya? Mereka itu tidak pantas memasukinya, kecuali dengan rasa takut (kepada Allah). Mereka mendapat kehinaan di dunia dan mendapat azab yang berat di akhirat.” (Q.S. Al-Baqarah: 114).

Pintu-pintu Al-Aqsa dijaga ketat, bahkan kerap ditutup. Bukan hanya para pemuda, orang-orang lanjut usia pun sering dilarang memasukinya. Para penjaga masjid dan ulama setempat pun mengalami intimidasi. Sebuah tragedi kemanusiaan di tanah yang dimuliakan Allah.

Baca Juga: Menyongsong Bulan Solidaritas Palestina

Namun Allah tidak membiarkan kezaliman berlangsung selamanya. Dalam lanjutan Surah Al-Isra, Allah memberi isyarat tentang datangnya pertolongan dan kehancuran keangkuhan penjajah:

فَاِذَا جَاۤءَ وَعْدُ اُوْلٰىهُمَا بَعَثْنَا عَلَيْكُمْ عِبَادًا لَّنَآ اُولِيْ بَأْسٍ شَدِيْدٍ فَجَاسُوْا خِلٰلَ الدِّيَارِۗ وَكَانَ وَعْدًا مَّفْعُوْلًا ۝٥

“Apabila datang saat (kerusakan) yang pertama dari keduanya, Kami datangkan kepadamu hamba-hamba Kami yang perkasa, lalu mereka merajalela di kampung-kampung. Itulah janji yang pasti terlaksana.” (Q.S. Al-Isra: 5).

Harapan ini diteguhkan pula oleh sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam:

Baca Juga: Menjadi Jurnalis Terbaik: Ketika Pena Menjadi Amanah dan Kebenaran Menjadi Jalan

لاَ تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي عَلَى الْحَقِّ ظَاهِرِينَ لَعَدُوِّهِمْ قَاهِرِينَ لَا يَضُرُّهُمْ مَنْ خَالَفَهُمْ إِلاَّ مَا أَصَابَهُمْ مِنْ لَأْوَاءَ حَتَّى يَأْتِيَهُمْ أَمْرُ اللَّهِ وَهُمْ كَذَلِكَ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَأَيْنَ هُمْ قَالَ بِبَيْتِ الْمَقْدِسِ وَأَكْنَافِ بَيْتِ الْمَقْدِس

“Tidak henti-hentinya akan ada segolongan dari umatku yang menegakkan kebenaran dan mengalahkan musuh-musuh mereka… hingga datang keputusan Allah.” Para sahabat bertanya, “Di manakah mereka, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Di Baitul Maqdis dan di sekitar Baitul Maqdis.” (H.R. Ahmad).

Untaian ayat dan hadits tersebut adalah energi ruhani, bahan bakar perjuangan umat Islam untuk membebaskan Masjidil Aqsa. Seruan “Al-Aqsa Haqquna” bukan sekadar slogan, melainkan panggilan iman yang bersandar kokoh pada Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Ia adalah kekuatan yang menyatukan kaum Muslimin lintas bangsa, bahasa, dan warna kulit. Pembebasan Masjidil Aqsa dan Palestina bukan hanya tanggung jawab umat Islam di sana, melainkan kewajiban seluruh umat Islam sedunia. Bahkan tanggung jawab setiap manusia yang menjunjung tinggi keadilan dan hak asasi.

Baca Juga: Rapuhnya Kekuatan Selain Allah

Semoga Allah menjadikan kita bagian dari barisan pembela dan pembebas Masjidil Aqsa. Semoga ruh Isra Mi’raj memperjalankan jiwa dan raga kita, menggerakkan langkah-langkah perjuangan secara berjamaah, hingga Al-Aqsa kembali merdeka dalam naungan keadilan dan rahmat Allah Subhanahu wa Ta‘ala. Aamiin. []

Mi’raj News Agency (MINA)

Baca Juga: Hakikat Memberi: Refleksi Diri dalam Setiap Kebaikan

Rekomendasi untuk Anda