SETIAP kali harga kebutuhan pokok naik, masyarakat langsung merasakan dampaknya. Harga beras meningkat, minyak goreng mahal, biaya transportasi bertambah, dan daya beli menurun. Dalam ilmu ekonomi, kondisi ini disebut inflasi, yaitu kenaikan harga barang dan jasa secara umum dalam jangka waktu tertentu.
Namun dalam perspektif Islam, inflasi tidak selalu dipandang semata-mata sebagai persoalan ekonomi. Ada dimensi moral dan spiritual yang ikut memengaruhi kehidupan manusia.
Islam mengajarkan, kerusakan ekonomi sering kali berawal dari rusaknya akhlak manusia, terutama ketika ketamakan, keserakahan dan hilangnya rasa syukur mulai menguasai kehidupan.
Secara ekonomi, inflasi bisa terjadi karena banyak faktor, seperti meningkatnya permintaan, berkurangnya pasokan, biaya produksi yang naik, hingga gejolak global. Akan tetapi, dalam kenyataan sehari-hari, sering ditemukan faktor manusia yang memperparah keadaan.
Baca Juga: Pejuang Media: Jihad dengan Suara dan Tulisan di Era Kompetisi Global
Penimbunan barang demi keuntungan berlebih, praktik monopoli, spekulasi harga, korupsi, hingga manipulasi pasar merupakan bentuk ketamakan yang dapat memicu kenaikan harga.
Ketika sebagian orang hanya memikirkan keuntungan pribadi tanpa mempertimbangkan kepentingan masyarakat luas, maka keseimbangan ekonomi menjadi terganggu.
Rasulullah SAW melarang praktik penimbunan barang (ihtikar) yang bertujuan menaikkan harga di tengah kebutuhan masyarakat. Dalam sebuah hadis, beliau bersabda:
مَنِ احْتَكَرَ عَلَى الْمُسْلِمِينَ طَعَامَهُمْ، ضَرَبَهُ اللهُ
Baca Juga: Konser Andrea Bocelli antara HAM dan Pembelaan terhadap Palestina
“Barang siapa menimbun makanan kaum muslimin, maka Allah akan menimpanya dengan penyakit kusta dan kebangkrutan.” (HR Ahmad)
Pesan hadist ini menunjukkan bahwa Islam sangat memperhatikan keadilan ekonomi dan melindungi masyarakat dari perilaku yang merugikan banyak orang.
Islam tidak melarang seseorang menjadi kaya. Bahkan banyak sahabat Nabi yang merupakan pedagang sukses. Namun Islam mengecam ketamakan, yaitu keinginan memperoleh keuntungan tanpa batas hingga mengabaikan nilai-nilai keadilan dan kemanusiaan.
Sering kali seseorang memperoleh keuntungan besar, tetapi hidupnya justru dipenuhi kegelisahan. Hartanya bertambah, tetapi kebahagiaan berkurang. Inilah yang disebut hilangnya berkah.
Baca Juga: Harapan Perdamaian untuk Arab Saudi dan Houthi
Berkah bukan sekadar banyaknya harta, melainkan kebaikan yang terus bertambah dari apa yang dimiliki. Uang yang sedikit namun mencukupi kebutuhan keluarga, kesehatan yang terjaga, hubungan yang harmonis, dan hati yang tenang merupakan bagian dari keberkahan.
Sebaliknya, harta yang diperoleh dengan cara zalim atau serakah dapat kehilangan nilai keberkahannya. Secara kasat mata jumlahnya bertambah, tetapi manfaatnya terasa semakin sedikit.
Allah SWT berfirman dalam Surat Ar-Rum ayat 41:
ظَهَرَ الْفَسَا دُ فِى الْبَرِّ وَا لْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّا سِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ
Baca Juga: Masjid Al-Aqsa, Kiblat Pertama, Arah Sujud yang Mengikat Hati Orang Beriman
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali ke jalan yang benar.”
Ayat ini sering dikaitkan dengan berbagai kerusakan sosial, lingkungan, dan ekonomi yang muncul akibat perilaku manusia sendiri. Ketika kejujuran hilang, korupsi merajalela dan keserakahan menjadi budaya, maka dampaknya tidak hanya dirasakan oleh pelaku, tetapi oleh seluruh masyarakat.
Krisis ekonomi, kesenjangan sosial, dan inflasi yang memberatkan rakyat kecil bisa menjadi pengingat bahwa pembangunan tidak cukup hanya mengandalkan angka pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memerlukan pembangunan moral dan spiritual.
Banyak orang bertanya, mengapa penghasilan naik tetapi kebutuhan terasa semakin berat? Salah satu jawabannya mungkin terletak pada keberkahan.
Baca Juga: Menyongsong Bulan Solidaritas Palestina
Dalam Islam, keberkahan rezeki sangat erat kaitannya dengan ketakwaan. Allah SWT berfirman dalam Surat Al-A’raf ayat 96:
وَلَوْ اَنَّ اَهْلَ الْقُرٰۤى اٰمَنُوْا وَا تَّقَوْا لَـفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكٰتٍ مِّنَ السَّمَآءِ وَا لْاَ رْضِ
“Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, niscaya Kami akan melimpahkan kepada mereka keberkahan dari langit dan bumi.”
Ayat ini menunjukkan bahwa keberkahan bukan hanya urusan individu, tetapi juga urusan masyarakat dan bangsa. Ketika kejujuran, amanah, dan kepedulian sosial dijaga, maka keberkahan dapat turun kepada seluruh negeri.
Baca Juga: Menjadi Jurnalis Terbaik: Ketika Pena Menjadi Amanah dan Kebenaran Menjadi Jalan
Solusi Menghadapi Inflasi
Islam menawarkan sejumlah prinsip yang relevan untuk menghadapi tantangan ekonomi modern.
Pertama, memperkuat kejujuran dalam perdagangan dan bisnis. Harga yang wajar dan transaksi yang transparan akan menjaga stabilitas pasar.
Kedua, menghindari penimbunan dan spekulasi yang merugikan masyarakat.
Baca Juga: Rapuhnya Kekuatan Selain Allah
Ketiga, memperbanyak sedekah dan zakat. Dalam pandangan Islam, berbagi tidak mengurangi harta, tetapi justru membuka pintu keberkahan.
Keempat, hidup sederhana dan menjauhi gaya hidup konsumtif. Banyak persoalan ekonomi muncul karena manusia terus mengejar keinginan yang tidak ada batasnya.
Kelima, memperkuat ketakwaan dan rasa syukur. Sebab hati yang bersyukur akan merasa cukup, sementara hati yang dikuasai ketamakan tidak akan pernah puas.
Inflasi memang persoalan ekonomi yang nyata dan memerlukan solusi kebijakan yang tepat. Namun bagi seorang muslim, ada pelajaran yang lebih dalam dari sekadar naik turunnya harga barang.
Baca Juga: Hakikat Memberi: Refleksi Diri dalam Setiap Kebaikan
Ketika ketamakan merajalela, keberkahan perlahan menghilang. Ketika manusia hanya mengejar keuntungan tanpa memperhatikan nilai-nilai keadilan, maka masalah ekonomi akan semakin kompleks.
Karena itu, selain memperbaiki sistem ekonomi, Islam mengajarkan pentingnya memperbaiki hati. Sebab kesejahteraan sejati bukan hanya tentang banyaknya harta yang dimiliki, melainkan tentang keberkahan yang menyertai setiap rezeki yang Allah titipkan.
Pada akhirnya, negeri yang dipenuhi kejujuran, kepedulian, dan ketakwaan akan lebih mudah meraih keberkahan daripada negeri yang dipenuhi keserakahan, meskipun memiliki kekayaan yang melimpah. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: 7 Amalan Ringan di Usia Senja, Menjemput Berkah Meraih Husnul Khatimah
















Mina Indonesia
Mina Arabic