Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Khutbah Jumat: Menyambut Tahun Baru 1448 Hijriyah, Meneladani Makna Hijrah Sejati

Ali Farkhan Tsani Editor : Widi Kusnadi - Jumat, 12 Juni 2026 - 04:44 WIB

Jumat, 12 Juni 2026 - 04:44 WIB

1492 Views ㅤ

Ali Farkhan Tsani (Dok MINA)

JUMAT ini kita memasuki akhir tahun 1447 Hijriyah, dan Bersiap memasuki tahun baru Islam 1448 H. Untuk itu, Khutbah Jumat edisi kali ini membahas “Khutbah Jumat: Menyambut Tahun Baru 1448 Hijriyah, Meneladani Makna Hijrah Sejati” yang ditulis oleh Ali Farkhan Tsani, Duta Al-Quds Internasional yang juga Wartawan Kantor Berita MINA (Minanews).

Berikut teks khutbah selengkapnya:

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ، وَلَا عُدْوَانَ إِلَّا عَلَى الظَّالِمِينَ

وَنَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَلِيُّ الصَّالِحِينَ، وَنَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ إِمَامُ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، وَأَفْضَلُ خَلْقِ اللَّهِ أَجْمَعِينَ

Baca Juga: Khutbah Jumat: Risalah Kemanusiaan dari Bumi Palestina

صَلَوَاتُ اللَّهِ وَسَلَامُهُ عَلَيْهِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَالتَّابِعِينَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.

أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

Hadirin sidang Jumat yang dimuliakan Allah,

Alhamdulillah, segala puji bagi Zat yang waktu dan musim bergulir dalam genggaman kuasa-Nya. Hari ini kita dipertemukan kembali dengan Sayyidul Ayyam, induk segala hari, Jumat yang penuh berkah. Nafas masih teratur, langkah masih tegap, dan iman masih bersemayam di relung jiwa. Sungguh, ini karunia yang tak terhitung.

Baca Juga: Khutbah Jumat: Kehidupan Dunia Tempat Menanam Kebaikan

Shalawat teriring salam tercurahkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, yang telah mengantarkan manusia dari alam jahiliyah ke alam yang penuh hidayah, dari masa permusuhan menuju persaudaraan, dari era perpecahan menuju persatuan.

Saat ini, bulan Dzulhijjah sedang bersandar di ambang pintu peradaban kita. Ia adalah bulan ke-12, bulan terakhir dalam rangkaian waktu yang Allah ciptakan. Sebelum berganti tahun baru Hijriyah, sejenak mari kita berhenti. Bukan sekadar untuk bernapas, tetapi untuk muhasabah, menimbang diri sebelum kelak ditimbang di hadapan-Nya.

Selanjunya, Marilah kita tingkatkan rasa syukur dengan istiqamah dalam takwa. Melaksanakan perintah Allah, menghidupkan sunnah Rasul, menjauhi larangan-Nya. Karena takwa adalah bekal paling utama untuk perjalanan panjang menuju keabadian.

Allah berfirman:

Baca Juga: Khutbah Jumat: Islam Menjaga Perdamaian  

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa, dan janganlah sekali-kali kalian mati kecuali dalam keadaan Muslim.” (Q.S. Ali ‘Imran [3]: 102).

Dan dalam ayat lain:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا – يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ

Baca Juga: Khutbah Jumat: Mentadaburi Surat Al-Isra dalam Pembebasan Al-Aqsa

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah akan memperbaiki amalan-amalanmu dan mengampuni dosa-dosamu.” (Q.S. Al-Ahzab [33]: 70-71).

Takwa bukan sekadar jargon. Ia adalah akumulasi segala kebaikan. Ia adalah perisai dari segala kejahatan. Dengan takwa, pintu pertolongan Allah terbuka lebar.

Hadirin sidang Jumah rahimakumullah,

Ada dua belas bulan urutan dalam Kalender Islam atau Hijriyah yang ternyata masih belum populer dikenal, dihafal, apalagi digunakan oleh umat Islam. Kalender yang terpampang di ruang-ruang tamu dan di kantor-kantor pada umumnya adalah Kalender Masehi. Kalender Hijriyah masih jarang dipasang. Padahal kalau kita menyimak sejarah perjuangan dan peradaban Islam, penanggalan Kalender Hijriyah merupakan sunnah Khalifah Umar bin Khattab dalam penentuan agenda kerja dua belas bulan dalam setahun.

Baca Juga: Khutbah Jumat: Melestarikan Alam Menyelamatkan Kehidupan

Sejarah Kalender Islam dihitung berdasarkan hijrahnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dari Mekkah ke Madinah (waktu itu Yatsrib) memenuhi panggilan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, yang menjadi tonggak bersejarah perkembangan awal Islam.

Adapun urutan nama-nama dua belas bulan dalam Kalender Hijriyah tersebut, yang tentunya harus terus kita hafald an sebut, meliputi : (1) Muharram (2) Shafar (3) Rabi’ul Awwal  (4) Rabi’ul Akhir  (5) Jumadil Awwal  (6) Jumadil Akhir (7) Rajab  (8)  Sya’ban (9) Ramadhan (10) Syawal (11) Dzulqa’dah (12) Dzulhijjah.

Adapun bagi kita kaum Muslimin, penggunaan kalender itu adalah terkait dengan ibadah kepada Allah, seperti mengawali dan mengakhiri puasa Ramadhan, Idul Fitri, Idul Adha, bulan Haji, peringatan Maulid Nabi, Isra Mi’raj, dan Tahun Baru Islam. Semua terkait dengan Kalender Islam.

Karena itu, marilah hadirin, sudah saatnya kaum Muslimin di manapun berada untuk berhijrah menggunakan kalender Hijriyah dalam setiap kegiatannya. Seperti dalam pelaksanaan ta’lim, kalender di rumahnya, catatan di buku harian, dan dalam surat-menyurat. Minimal kalau menyebut tanggal Masehi, jangan lupa sebutkan tanggal Hijriyahnya, atau sebaliknya lebih baik, Hijriyahnya terlebih dahulu, baru kemudian Masehinya.

Baca Juga: Khutbah Jumat: Jangan Pernah Berhenti Menyuarakan Al-Aqsa

Kaum Muslimin juga hendaknya mengenalkan dan mengajarkan Kalender Hijriyah ini kepada anak-anak muslim. Sehingga dengan demikian lambat laun pemakaian kalender Hijriyah ini akan merata. Dengan menggunakan Kalender Hijriyah yang diamanatkan pertama kali oleh Khalifah Umar bin Khattab, berarti kita menghargai sekaligus mentaati apa yang telah diputuskan oleh Khalifah serta para sahabat lainnya.

Hadirin yang berbahagia,

Adapun perguliran tahun baru Hijriyah mengingatkan kita pada suatu kisah spektakuler dalam tarikh perjuangan Islam, yaitu peristiwa “Hijrah” Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan para sahabat dari Mekkah ke Yatsrib (Madinah) pada tahun 1 Hijriyah (bertepatan dengan tahun 622 Masehi).

Allah menyebutkan tidak kurang dari 30 kali perkataan hijrah atau pecahan dari kata hijrah di dalam Al-Quran. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya masalah hijrah dalam syariat Islam.

Baca Juga: Khutbah Jumat: Sabar Dalam Menghadapi Musibah

Banyak makna dan pelajaran berharga yang dapat kita ambil dari peristiwa Hijrah.

Pertama, hijrah merupakan tonggak monumental dan memiliki makna yang sangat berarti bagi perjuangan muslimin

Fase hijrah merupakan kebangkitan Islam yang semula diliputi suasana dan situasi tidak kondusif di Makkah menuju suasana prospektif di Madinah.

Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah menyebut hijrah Nabi sebagai al-hijrah al-haqiqiyyah (hijrah sejati). Alasannya, hijrah fisik sekaligus refleksi dari hijrah maknawi itu sendiri. Dua makna hijrah tersebut sekaligus terangkum dalam hijrah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan para sahabatnya ke Madinah.

Baca Juga: Khutbah Jumat: Berbakti Kepada Orang Tua, Kunci Kesuksesan dan Keberkahan Hidup

Secara makani (fisik), mereka berjalan kaki dari Mekkah ke Madinah, menempuh padang pasir sejauh kurang lebih 450 km. Secara maknawi juga jelas, mereka berhijrah demi terjaganya misi Islam.

Dalam mengembangkan dakwah menyeru ke jalan Allah, para Nabi utusan Allah juga melakukan hijrah perpindahan secara dinamis dari satu tempat ke tempat lain. Di antaranya adalah Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam yang terkenal dalam sejarah karena perjalanan hidupnya yang penuh dengan ujian dan tantangan. Adalah Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam yang berhijrah dari Babylonia (Iraq) menuju kawasan Baitul Maqdis (Palestina).

Allah mengabadikannya di dalam ayat :

وَنَجَّيْنٰهُ وَلُوْطًا اِلَى الْاَرْضِ الَّتِيْ بٰرَكْناَ فِيْهَا لِلْعٰلَمِيْنَ 

Baca Juga: Khutbah Jumat: Tugas Besar Rasulullah ﷺ dan Kunci Kesuksesannya

“Kami menyelamatkannya (Ibrahim) dan Lut ke tanah (Syam) yang telah Kami berkahi untuk seluruh alam.” (QS Al-Anbiya [21]: 71).

Sebuah perjalanan membangun peradaban atas semangat loyalitas, kesetiaan, keimanan, dan ketha’atan yang berujung pada sesuatu lebih baik atas ridha Allah.

Kitapun dituntut untuk berhijrah dari sistem jahiliyah menuju sistem Islam secara keseluruhan (kaffah). Mulai dari sistem pendidikan, ekonomi, budaya, kemasyarakatan, dan lain sebagainya ke dalam kesempurnaan Islam berlandaskan Al-Quran dan As-Sunnah.

Hijrah pula dari hal-hal yang dilarang Allah menuju hal-hal yang diperintahkan-Nya. Hijrah dari perbuatan yang mubadzir dan mafsadat (merusak), menuju amal sholih yang lebih bermanfaat. Hijrah dari perpecahan atau firqah-firqah menuju persatuan atau hidup secara terpimpin berjama’ah.

Baca Juga: Khutbah Jumat: Kemerdekaan Hakiki Sebagai Hamba Allah

Intinya hijrah meningalkan segala yang dilarang Allah menuju yang Allah perintahkan. Seperti disabdakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam :

الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللَّهُ عَنْهُ

“Seorang muslim adalah orang yang menjadikan muslim lainnya merasa selamat dari lisan dan tangan (perbuatannya). Sedangkan muhajir (orang yang hijrah) adalah orang yang meninggalkan segala yang dilarang Allah”. (HR Muttafaqun ‘Alaih).

Kedua,  hijrah mengandung semangat perjuangan dan rasa opimisme yang tinggi

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan para sahabatnya telah melawan rasa sedih dan takut dengan berhijrah, meski harus meninggalkan tanah kelahiran, sanak saudara dan harta benda yang dicintainya. Namun, Allah, Rasul-Nya, dan jihad fi sabilillah lebih dicintai dari semua daya pikat dunia.

Mereka sangat menikmati bagaimana mengamalkan ayat :

قُلْ إِنْ كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّىٰ يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ ۗ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ

”Katakanlah : jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik”. (QS At-taubah [9] : 24).

Ketiga,  hijrah mengandung semangat persaudaraan

Ini seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pada saat beliau mempersaudarakan antara kaum Muhajirin dengan kaum Anshar dalam ikatan satu kesatuan umat secara terpimpin(jama’ah) berlandaskan takwa kepada Allah.  

Karenanya, ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berhijrah dari Mekkah ke Madinah, langkah awal yang dilakukan beliau setelah membangun masjid sebagai sentral perjuangan kaum muslimin, adalah mempersaudarakan kaum pendatang (Muhajirin) dengan kaum pribumi (Anshar).

Adapun maksud beliau mengadakan persaudaraan itu adalah, untuk: (1) melenyapkan rasa asing pada diri sahabat muhajir di daerah yang baru yaitu kota Madinah, (2) membangun rasa persaudaraan antara satu sama lain di dalam agama Allah, (3) agar satu sama lain saling tolong-menolong, yang kuat menolong yang lemah, yang mampu menolong yang kekurangan, dan sebagainya.

Semangat persaudaraan sesama orang-orang beriman Allah tegaskan di dalam Al-Quran :

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

“Sesungguhnya orang-orang mu’min adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat. (QS Al-Hujurat [49] : 10).

Pada ayat lain Allah menegaskan:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَىٰ شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

 “Dan berpeganglah kalian semuanya kepada tali [agama] Allah seraya berjama’ah, dan janganlah kalian bercerai berai, dan ingatlah akan ni’mat Allah kepada kalian ketika kalian dahulu [masa Jahiliyah] bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hati kalian, lalu menjadilah kalian karena ni’mat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kalian telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kalian daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada kalian, agar kalian mendapat petunjuk”. (QS Ali Imran[3] : 102-103). 

Hadirin rahimakumullah.

Demikianlah, semoga kehadiran Tahun Baru 1448 Hijriyah ini mampu menumbuhkan optimisme perjuangan membangun peradaban masyarakat dengan berlandaskan nilai-nilai ukhuwah Islamiyah, rahmatan lil ‘alamin, umat Islam yang satu dan persatuan kesatuan umat Islam yang tidak mudah dipecah-belah. Berjamaah untuk pembebasan Al-Aqsha dan Palestina, serta untuk kejayaan Islam dan Muslimin.

Aamiin yaa robbal ‘aalamiin.

بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ. أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Mi’raj News Agency (MINA)

Rekomendasi untuk Anda

Khutbah Jumat: Kewajiban Menolong Warga Palestina yang Terjajah
Khutbah Jumat
Khutbah Jumat
Indonesia
Hikmah