Oleh Imaam Yakhsyallah Mansur
بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيم
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِلْجَهَنَّمِ كَثِيرًا مِّنَ الْجِنِّ وَالْإِنسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَا يَسْمَعُونَ بِهَا أُو۟لَـٰئِكَ كَالْأَنْعَـٰمِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُو۟لَـٰئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ (الاعراف [٧]: ١٧٩)
Baca Juga: Boleh Bersedih, Tapi Jangan Larut dalam Kesedihan
“Dan sungguh, Kami ciptakan untuk Neraka banyak dari jin dan manusia; mereka mempunyai hati, tetapi tidak digunakan untuk memahami, mereka mempunyai mata, tetapi tidak digunakan untuk melihat, dan mereka mempunyai telinga, tetapi tidak digunakan untuk mendengar. Mereka itu seperti hewan, bahkan lebih sesat; mereka itulah orang-orang yang lalai.” (QS. Al-A’raf [7]: 179)
Ayat ini memberikan gambaran yang mendalam tentang perilaku orang-orang yang lalai dari kebenaran. Mereka memiliki kemampuan intelektual dan panca indera yang sempurna, namun tidak digunakan untuk merenungi kebenaran, menegakkan keadilan, atau menahan diri dari kedzaliman.
Imam Ibnu Katsir Rahimahullah dalam Tafsir al-Qur’an al-‘Azim menjelaskan, bahwa ayat ini menyinggung manusia yang hatinya keras, telinganya menutup dari nasihat, dan matanya buta terhadap penderitaan manusia.
Mereka meniru sifat hewan dalam ketidakmampuan mereka membedakan baik dan buruk, bahkan lebih sesat lagi karena mereka memiliki akal dan kemampuan intelektual, tetapi tidak dipergunakan untuk kebaikan.
Baca Juga: Komunitas Sebagai Fondasi Umat dan Benteng Generasi
Imam Al-Qurtubi Rahimahullah menambahkan, ayat di atas juga merupakan peringatan bagi para pemimpin yang menempatkan kekuasaan sebagai tujuan akhir. Mereka menggunakan indera dan kecerdasan bukan untuk kemaslahatan rakyat, melainkan untuk menindas, menimbulkan ketakutan dalam masyarakat, demi melanggengkan kekuasaan.
Dalam konteks kehidupan modern seperti saat ini, ayat di atas menjadi relevan ketika melihat perilaku beberapa pemimpin dunia yang sombong lagi dzalim. Misalnya, kebijakan penjahat perang Zionis Yahudi Benjamin Netanyahu yang melakukan genosida di Gaza, Palestina.
Begitu pula dengan Donald Trump, dalam kebijakan luar negerinya, ia menyerang negara-negara yang dianggap menghalang-halangi keinginannya. Setelah menculik presiden Venezuela Nicholas Maduro, mengancam akan mencaplok Greenland (tanah milik Denmark), kini ia dengan brutal melakukan agresi militer ke Iran, hingga menyebabkan Khamenei terbunuh.
Pemimpin seperti itu termasuk golongan yang hatinya tidak digunakan untuk memahami keadilan, matanya tidak digunakan untuk melihat hak-hak yang dirampas, dan telinganya tidak digunakan untuk mendengar keluhan rakyat.
Baca Juga: Kejahatan Yahudi Membuat Hatinya Keras Membatu
Syaikh Yusuf al-Qaradhawi menegaskan, pemimpin yang menindas rakyat atau bangsa lain dengan teknologi, militer, ekonomi dan lainnya, sesungguhnya mereka sedang membawa kehancuran dunia dan akhirat bagi dirinya.
Perilaku dzalim seperti yang dilakukan Trump dan Netanyahu adalah cerminan modern dari manusia yang lalai dalam menggunakan indera dan akalnya untuk kebaikan. Sebaliknya, umat Islam dipanggil untuk berpegang pada prinsip keadilan dan kebenaran, menegakkan moralitas dalam kepemimpinan, dan menolak segala bentuk tirani yang menindas manusia.
Barbarisme Modern oleh Fir’aun Abad Ini
Dalam Kamus KBBI, kata Barbar berarti tidak beradab, kasar, atau kejam, merujuk pada perilaku yang tidak berbudaya. Istilah ini berakar dari bahasa Yunani Kuno, yaitu bárbaros, yang awalnya digunakan untuk menyebut orang asing atau mereka yang bahasanya tidak dimengerti. Dalam bahasa komunikasi, kata barbar sering digunakan untuk menggambarkan tindakan agresif atau liar.
Baca Juga: Ustaz Amri Fatmi: Hidup Mewah Berdampak Luas pada Kerusakan Alam
Dalam perjalanan sejarah umat manusia, istilah barbar selalu melekat pada mereka yang menolak kemanusiaan, menindas, dan mengedepankan kekerasan dan pembunuhan. Dari masyarakat kuno hingga peradaban modern, barbarisme hadir dalam bentuk yang berbeda.
Ironisnya, bangsa-bangsa yang mengklaim diri penjaga perdamaian dan kampiun demokrasi justru menunjukkan perilaku barbar, lebih kejam daripada definisinya. Perang-perang kontemporer, terutama perang Iran vs Israel–Amerika Serikat (AS) saat ini terjadi menunjukkan bagaimana kekuasaan tanpa akhlak (etika) melahirkan barbarisme dalam skala yang mengerikan.
Ketika Israel dan AS melakukan intervensi militer di Iran, mereka tidak sekadar mengekspresikan keangkuhannya, namun secara konsisten menunjukkan ciri barbarisme modern. Sejarah mencatat, perang di Lebanon, genosida di Gaza, hingga agresi militer terhadap Iran dimulai oleh Israel dan AS yang mengklaim cinta damai.
Namun fakta di lapangan, seperti dilaporkan The Intercept dan New York Times pada awal Maret 2026 ini menunjukkan bahwa serangan militer lebih sering didahulukan daripada dialog, lebih mengutamakan praktik-praktik kekerasan daripada diplomasi.
Baca Juga: Kehidupan Berbangsa dalam Perspektif Al-Qur’an
Intelektual Yahudi, Prof. Noam Chomsky, dalam wawancaranya dengan The Guardian dan Al Jazeera menegaskan, bahwa dukungan militer dan diplomatik AS terhadap Israel menjadi pendorong utama eskalasi krisis di Timur Tengah. Bagi Chomsky, kekuatan global yang seharusnya menjadi penyeimbang justru kerap menjadi penyulut perang.
Barack Obama dalam memoarnya A Promised Land juga menyebut bahwa kebijakan luar negeri AS sering menekankan hegemoni dan keamanan Israel, bukan keadilan bagi rakyat Palestina maupun regional di kawasan Timur Tengah.
Pemimpin Israel dan AS saat ini, Benjamin Netanyahu dan Donald Trump, oleh para tokoh internasional kerap disebut sebagai “Fir’aun abad modern”. Sebutan ini bukan metafora kosong, karena perilaku mereka mencerminkan ciri penguasa dzalim: menindas rakyat, menolak norma-norma kemanusiaan, dan memaksakan kehendak atas bangsa lain.
Netanyahu dengan aksi genosidanya di Gaza, serta Trump dengan agresi militernya ke Venezuela dan Iran menunjukkan bahwa kekuasaan modern dapat menjadi bentuk baru dari tirani yang menolak moralitas internasional.
Baca Juga: Perang Gaza dan Perubahan Persepsi Publik Amerika terhadap Palestina
Ironi Pemimpin Dunia yang Berpihak kepada Trump
Di tengah dunia yang dilanda perang, ketimpangan ekonomi, dan krisis kemanusiaan, publik global berharap lahirnya kepemimpinan yang bijak, konsisten, dan berempati. Namun ironi justru tampak ketika sebagian pemimpin dunia memilih berpihak kepada figur yang rekam jejaknya penuh kontroversi dan pernyataan kontradiktif, yakni Donald Trump.
Trump dikenal dengan gaya politiknya yang angkuh, sombong keras dan sering berubah-ubah (tidak konsisten) justru mendapatkan dukungan dari sejumlah elite dunia. Fenomena ini memunculkan pertanyaan moral: apakah kepentingan politik telah sepenuhnya menggantikan nilai kemanusiaan?
The Washington Post dan The New York Times berulang kali menyoroti bagaimana gaya komunikasi Trump yang menciptakan kebingungan diplomatik. Namun alih-alih menjaga jarak, sebagian pemimpin dunia justru merapat, seolah stabilitas bukan lagi prioritas utama.
Baca Juga: Berubah ke Arah yang Lebih Baik
Slogan “America First” yang menjadi ciri kebijakan Trump memperlihatkan kecenderungan nasionalisme sempit. Profesor hubungan internasional Stephen Walt dari Harvard University dalam tulisannya di Foreign Policy pernah mengingatkan bahwa pendekatan unilateral dan transaksional dalam politik luar negeri berpotensi merusak tatanan internasional yang telah dibangun selama puluhan tahun.
Noam Chomsky yang dikenal kritis terhadap kebijakan luar negeri AS menyebut, bahwa politik berbasis dominasi dan tekanan hanya akan memperpanjang konflik global. Ia menilai bahwa dukungan tanpa syarat terhadap kebijakan yang kontroversial mencerminkan kegagalan kepemimpinan moral di tingkat internasional.
Ironi semakin terasa ketika para pemimpin yang mengaku menjunjung tinggi demokrasi dan hak asasi manusia (HAM) justru bersekutu dengan figur yang kebijakannya jelas-jelas melanggar prinsip-prinsip tersebut.
Mantan Presiden AS Barack Obama menyinggung bagaimana politik luar negeri negaranya saat ini sering terjebak dalam kompromi kepentingan yang mengaburkan nilai keadilan. Pernyataan ini menjadi refleksi bahwa, bahkan di dalam negeri AS sendiri terdapat kesadaran kolektif terhadap kebrutalan pemimpin yang dipilihnya (Donald Trump).
Baca Juga: Al-Aqsa Cahaya Keberkahan yang Menyinari Alam Semesta Sepanjang Masa
Kepemimpinan dalam Pandangan Islam
Dari perspektif Islam, kepemimpinan tidak hanya diukur dari kekuatan, tetapi dari keadilan dan amanah. Imam al-Mawardi dalam karyanya Al-Ahkam as-Sulthaniyyah menegaskan bahwa tujuan utama kepemimpinan adalah menjaga agama dan mengatur dunia dengan keadilan.
Ketika penguasa lebih mengutamakan kepentingan pribadi atau kelompoknya, maka legitimasi moralnya runtuh. Prinsip ini relevan dalam menilai fenomena keberpihakan yang lebih didasarkan pada keuntungan politik jangka pendek daripada nilai-nilai kemanusiaan yang universal.
Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumid Din juga mengingatkan bahwa kekuasaan tanpa akhlaq (moralitas) akan berubah menjadi sumber kerusakan. Ia menyebut bahwa penguasa adalah bayangan Tuhan di bumi—yang seharusnya melindungi yang lemah, bukan mengeksploitasi dan menindas.
Baca Juga: Keutamaan Al-Qur’an: Dari Musabaqah untuk Diamalkan dalam Kehidupan
Dalam konteks global, keberpihakan kepada figur yang menunjukkan sikap ingin menang sendiri dan tidak peduli pada penderitaan bangsa lain bertentangan dengan etika kepemimpinan yang digariskan dalam tradisi Islam.
Syekh Yusuf al-Qaradhawi dalam berbagai tulisannya menegaskan bahwa kedzaliman, meskipun dibungkus dengan retorika dan menggunakan berbagai cara, tetaplah kezaliman. Standar ganda dalam menilai konflik, serta keberpihakan yang tidak mempertimbangkan nasib rakyat tertindas, merupakan tanda lemahnya komitmen terhadap keadilan. Prinsip al-‘adl asasul hukm (keadilan adalah fondasi pemerintahan) seharusnya menjadi ukuran yang tak bisa ditawar.
Mengapa ironi ini terus terjadi? Karena para pemimpin mendahulukan kalkulasi untung-rugi, bukan oleh kompas nurani. Aliansi dibangun atas dasar kepentingan ekonomi, pertahanan, dan pengaruh geopolitik.
Namun sejarah membuktikan, bahwa kepemimpinan yang mengabaikan etika akan mempercepat kejatuhan dan kehancuran dirinya. Kekerasan, penindasan, dan barbarisme modern adalah akibat ketidakselarasan antara moralitas dan kekuasaan.
Baca Juga: Hukuman Potong Tangan: Alternatif Mengatasi Kejahatan Korupsi
Negara yang ingin disebut beradab bukan diukur dari jumlah senjata atau pengaruh global, tetapi dari kemampuannya menegakkan keadilan, menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, dan mewujudkan perdamaian.
Ketika suatu bangsa menutup akal dan nuraninya, menggantinya dengan kalkulasi untung-rugi secara materi, maka ia bukan lagi membangun peradaban. Ia hanyalah barbarisme modern yang paling berbahaya bagi kemanusiaan.
وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ
Mi’raj News Agency (MINA)
















Mina Indonesia
Mina Arabic