DI ZAMAN ketika cahaya layar lebih sering menyala daripada cahaya sajadah, kita sedang menyaksikan kenyataan yang sangat menyedihkan: semakin banyak manusia yang melalaikan shalat. Masjid masih berdiri megah, adzan masih berkumandang lima kali sehari, tetapi hati banyak manusia terasa semakin jauh dari panggilan Allah. Yang paling menggetarkan adalah ketika kelalaian itu menjangkiti anak-anak remaja dan para pemuda, generasi yang seharusnya menjadi harapan umat.
Banyak yang rela begadang demi hiburan, tetapi berat bangun untuk shalat Subuh. Banyak yang gelisah jika tertinggal notifikasi, tetapi tidak merasa kehilangan ketika meninggalkan shalat. Mereka tumbuh cerdas dengan teknologi, namun miskin kedekatan dengan Ilahi. Inilah realitas yang dahulu telah diperingatkan Allah dalam Surat Maryam ayat 59, bahwa akan datang generasi yang menyia-nyiakan shalat dan tenggelam dalam hawa nafsu. Sebuah ayat yang hari ini terasa bukan sekadar bacaan, tetapi potret nyata kehidupan akhir zaman.
Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an surat Surah Maryam ayat 59, “Lalu datanglah setelah mereka generasi pengganti yang menyia-nyiakan shalat dan mengikuti hawa nafsu, maka mereka kelak akan menemui kesesatan.”
Ayat ini terasa begitu hidup ketika kita melihat realitas hari ini. Banyak anak-anak zaman sekarang tumbuh menjadi generasi yang cerdas, cepat memahami teknologi, pandai berbicara, bahkan berprestasi di sekolah. Namun di balik semua kecerdasan itu, ada sesuatu yang perlahan hilang: kedekatan dengan shalat.
Baca Juga: UIN Ar-Raniry Latih Bahasa Inggris 40 Pemuda Aceh untuk Bekerja di Luar Negeri
Hari ini kita melihat anak yang begitu hafal permainan di gadget, tetapi tidak hafal bacaan shalat. Ada yang mampu duduk berjam-jam di depan layar, tetapi merasa berat lima menit berdiri menghadap Allah. Ada yang sangat disiplin mengejar nilai akademik, tetapi lalai menjaga waktu shalat. Inilah gambaran yang sudah diingatkan Allah berabad-abad lalu dalam surat Maryam ayat 59.
Ayat ini bukan sekadar bercerita tentang meninggalkan shalat total. Para ulama menjelaskan bahwa “menyia-nyiakan shalat” juga berarti menunda-nunda, meremehkan, tidak khusyuk, atau mengerjakannya tanpa hati. Betapa banyak generasi hari ini yang masih shalat, tetapi shalatnya hanya menjadi rutinitas tanpa ruh. Bibir bergerak, tetapi hati jauh dari Allah.
Yang lebih menyedihkan, kecerdasan hari ini sering tidak dibarengi adab dan ketakwaan. Anak-anak diajarkan banyak hal tentang dunia, tetapi sedikit sekali diajarkan bagaimana menjaga hubungan dengan Rabb-nya. Mereka dipersiapkan menjadi sukses di bumi, tetapi lupa dipersiapkan untuk selamat di akhirat.
Padahal shalat bukan sekadar ibadah biasa. Shalat adalah penjaga jiwa. Shalat adalah cahaya kehidupan. Shalat adalah benteng moral. Ketika shalat rusak, maka rusak pula akhlak dan arah hidup seseorang. Tidak heran jika setelah menyebut “menyia-nyiakan shalat”, Allah langsung menyebut “mengikuti hawa nafsu.” Karena hati yang jauh dari shalat akan mudah dikuasai syahwat.
Baca Juga: Ponpes Shuffah Al-Jama’ah Tasikmalaya Gelar Training Growth Shuffah untuk Tingkatkan Kualitas Santri
Lihatlah realitas hari ini. Banyak anak mudah marah, sulit hormat kepada orang tua, kecanduan hiburan, mudah terjerumus pergaulan bebas, dan kehilangan kontrol diri. Semua itu sering bermula dari hubungan yang lemah dengan Allah. Ketika shalat mulai ditinggalkan, maka benteng ruhani mulai runtuh sedikit demi sedikit.
Penelitian psikologi modern pun menunjukkan bahwa ibadah yang dilakukan secara rutin dapat membantu kestabilan emosi, meningkatkan pengendalian diri, dan menenangkan jiwa. Dalam Islam, semua itu sudah diajarkan sejak lama. Shalat bukan hanya kewajiban agama, tetapi kebutuhan hati manusia. Sebab manusia tidak cukup hanya diberi ilmu, tetapi juga harus diberi cahaya iman.
Ironisnya, sebagian orang tua hari ini lebih bangga ketika anaknya juara kelas dibanding ketika anaknya menjaga shalat lima waktu. Anak dipaksa belajar sampai larut malam, tetapi tidak dibangunkan untuk shalat Subuh. Orang tua rela mengeluarkan banyak biaya demi pendidikan dunia, tetapi lalai menanamkan kecintaan kepada masjid dan ibadah.
Padahal keberhasilan sejati bukan hanya tentang nilai tinggi atau karier hebat. Berapa banyak orang pintar yang hidupnya kosong, gelisah, bahkan rusak moralnya karena jauh dari Allah? Sebaliknya, banyak orang sederhana tetapi hidupnya penuh keberkahan karena menjaga shalat.
Baca Juga: Baznas, Kemenag Salurkan Bantuan Rp17,5 M untuk 700 Pesantren di Seluruh Indonesia
Rasulullah ﷺ sangat menekankan pentingnya shalat dalam pendidikan anak. Beliau bersabda agar anak diperintahkan shalat sejak usia tujuh tahun. Ini menunjukkan bahwa pendidikan iman harus dimulai sejak dini. Anak tidak cukup hanya diberi fasilitas, tetapi juga harus diberi keteladanan.
Anak-anak belajar bukan hanya dari nasihat, tetapi dari apa yang mereka lihat setiap hari. Jika orang tua menjaga shalat tepat waktu, mencintai masjid, dan menghadirkan suasana ibadah di rumah, maka anak akan lebih mudah tumbuh mencintai shalat. Namun jika rumah dipenuhi layar, hiburan, dan kesibukan dunia tanpa ruh ibadah, maka anak pun akan tumbuh jauh dari Allah.
Surat Maryam ayat 59 juga mengandung peringatan keras. Allah menyebut bahwa generasi yang menyia-nyiakan shalat akan menemui “ghayya”, yaitu kesesatan dan kehancuran. Ini menjadi alarm bagi umat hari ini. Jangan sampai kita melahirkan generasi yang cerdas otaknya tetapi kosong ruhnya. Pintar berbicara, tetapi tidak mengenal Rabb-nya. Hebat di dunia maya, tetapi lemah di hadapan Allah.
Namun Islam tidak hanya datang membawa peringatan, tetapi juga harapan. Selama hati masih hidup, pintu taubat masih terbuka. Anak-anak kita masih bisa diperbaiki. Yang dibutuhkan adalah kesungguhan keluarga, pendidikan, dan lingkungan untuk menghidupkan kembali shalat dalam kehidupan mereka.
Baca Juga: Adab di Majelis Ilmu: Hormat Itu Keren, Bukan Feodal
Mari jadikan shalat bukan sekadar kewajiban, tetapi kebutuhan dan kebanggaan. Ajarkan kepada anak-anak bahwa shalat bukan beban, melainkan pertemuan paling indah dengan Allah. Sebab generasi yang menjaga shalat akan dijaga hidupnya oleh Allah. Dan generasi yang dekat dengan Allah, itulah generasi yang benar-benar akan menyelamatkan masa depan umat.[]
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: UIN Ar-Raniry Kaji Jejak Intelektual Syekh Yusuf al-Makassari di Kawasan Samudra Hindia
















Mina Indonesia
Mina Arabic