Oleh Imaam Yakhsyallah Mansur
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
اِنَّمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَّلَهْوٌۗ وَاِنْ تُؤْمِنُوْا وَتَتَّقُوْا يُؤْتِكُمْ اُجُوْرَكُمْ وَلَا يَسْـَٔلْكُمْ اَمْوَالَكُمْ ٣٦ (محمد [٤٧]: ٣٦)
Baca Juga: Boleh Bersedih, Tapi Jangan Larut dalam Kesedihan
“Sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau. Jika kamu beriman dan bertakwa, Allah akan memberikan pahala kepadamu dan Dia tidak akan meminta harta-hartamu.” (QS. Muhammad [47]: 36).
Ayat ini bukanlah larangan terhadap setiap bentuk permainan, melainkan peringatan agar manusia tidak menjadikannya sebagai tujuan hidup hingga melupakan kehidupan akhirat yang kekal (akhirat).
Imam Ath-Thabari Rahimahullah dalam kitabnya Jāmi’ul Bayān menjelaskan bahwa istilah لَعِبٌ artinya lalai dari sesuatu dan وَّلَهْوٌۗ artinya sesuatu yang tidak memberi manfaat. Keduanya menggambarkan aktifitas kehidupan dunia yang bersifat sementara dan mudah memperdaya manusia.
Permainan menjadi tercela apabila membuat seseorang lalai dari ketaatan kepada Allah Ta’ala, sedangkan aktivitas dunia yang membawa kepada kebaikan tetap berada dalam koridor yang tidak dilarang.
Baca Juga: Komunitas Sebagai Fondasi Umat dan Benteng Generasi
Allah Ta’ala tidak mengharamkan manusia menikmati kehidupan dunia, tetapi mengingatkan agar kenikmatan itu tidak membuat mereka melupakan tujuan penciptaannya sebagai hamba yang harus menyembah Tuhan Sang Penciptanya.
Sementara Imam Al-Qurthubi Rahimahullah menambahkan, bahwa ayat ini mengajarkan keseimbangan antara urusan dunia dan akhirat. Berbagai bentuk hiburan dan permainan pada dasarnya diperbolehkan, selama tidak melalaikan ibadah, tidak mengandung kemaksiatan, serta tidak menghalangi seseorang menjalankan tugas dan kewajibannya.
Islam memandang rekreasi dan olahraga sebagai bagian dari fitrah kebutuhan manusia. Bahkan, keduanya bisa bernilai ibadah apabila diniatkan untuk menjaga kesehatan, memperkuat fisik, membangun persaudaraan, dan menghadirkan kemaslahatan bagi umat.
Dalam konteks di atas, permainan sepak bola ketika dimainkan dengan menjunjung sportivitas, kerja sama, disiplin, dan akhlak yang baik, ia bisa menjadi media pembinaan karakter dan latihan untuk menumbuhkan rasa kebersamaan.
Baca Juga: Kejahatan Yahudi Membuat Hatinya Keras Membatu
Popularitas para pemain, pelatih, maupun besarnya perhatian dunia terhadap sebuah pertandingan bisa menjadi sarana menggalang solidaritas, menyadarkan manusia tentang kepedulian antar sesama, menegakkan keadilan, persaudaraan, dan kasih sayang.
Pandangan inilah yang semestinya menjadi pijakan umat Islam dalam menyikapi sepak bola. Permasalahan bukan terletak pada permainannya, melainkan pada bagaimana manusia memosisikan olahraga tersebut dalam kehidupannya.
Sepak Bola Jangan Menjadi Agama
Dalam perspektif Islam, segala sesuatu harus ditempatkan secara proporsional. Sepak bola adalah bagian dari hiburan. Ia dapat dicintai, tetapi tidak boleh mengalahkan kecintaan kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya. Ia dapat menjadi sarana mendapat kesenangan, tetapi tidak boleh menguasai hati hingga melalaikan kewajiban.
Baca Juga: Ustaz Amri Fatmi: Hidup Mewah Berdampak Luas pada Kerusakan Alam
Bagi sebagian orang di Barat, sepak bola telah mengambil sebagian fungsi sosial yang dijalankan dalam agama. Bagi mereka yang biasanya setiap hari Minggu (Ahad) pergi ke gereja, kemudian berubah menjadi ke stadion. Lagu-lagu yang dilantunkan dalam ruang ibadah, kini berganti dengan yel-yel yang dinyanyikan di stadion dengan semangat luar biasa. Loyalitas kepada klub bahkan diwariskan dari orang tua kepada anaknya sebagaimana sebuah tradisi keluarga.
Fenomena tersebut membuat banyak pakar ilmu sosial menyebut sepak bola sebagai agama sipil (civil religion). Jurnalis olahraga Inggris, Simon Kuper menggambarkan bagaimana sepak bola di negaranya menjadi identitas sosial, memengaruhi kebijakan politik, hingga menjadi simbol kebanggaan bangsa.
Pandangan menjadikan sepak bola sebagai agama, tidak dalam pengertian teologis. Namun, yang dimaksud adalah, bahwa sepak bola telah mengambil fungsi-fungsi sosial yang dijalankan oleh agama: yaitu membangun rasa memiliki, memperkuat solidaritas kelompok dan menciptakan ritual bersama.
Karena itu, umat Islam tidak boleh terjebak menjadikan sepak bola sebagai “agama baru” yang menggeser peran Islam dalam kehidupan. Kecintaan kepada klub dan pemain tidak boleh berubah menjadi fanatisme yang mengalahkan kecintaan kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya.
Baca Juga: Kehidupan Berbangsa dalam Perspektif Al-Qur’an
Sepak Bola Menjadi Sarana Dakwah
Perhatian manusia yang begitu besar bisa menjadi sarana untuk menyebarkan nilai-nilai persaudaraan, kepedulian dan empati kepada sesama manusia yang masih terjajah dan teraniaya, yakni bangsa Palestina.
Popularitas yang dimiliki para pemain sepak bola dapat menghadirkan kemaslahatan. Di sinilah sepak bola menemukan makna yang lebih luhur, bukan sekadar memperebutkan trofi, tetapi juga menjadi panggung untuk menyampaikan nilai-nilai Islam yang universal, membangun persaudaraan, menyuarakan pembelaan terhadap kaum yang tertindas dan terjajah.
Banyak pesepakbola Muslim memanfaatkan panggung tersebut untuk menunjukkan identitas keagamaannya. Selebrasi sujud syukur setelah mencetak gol, menjaga adab ketika menang maupun kalah, menghormati lawan, serta menunjukkan kepedulian kepada sesama menjadi bentuk dakwah yang sederhana, tetapi sangat mengena.
Baca Juga: Perang Gaza dan Perubahan Persepsi Publik Amerika terhadap Palestina
Salah satu contoh yang paling menonjol adalah Mohamed Salah (محمد صلاح). Striker asal Mesir itu tidak hanya dikenal karena ketajamannya mencetak gol, tetapi juga karena konsistensinya menampilkan identitas sebagai seorang Muslim.
Selebrasi sujud syukurnya telah menjadi pemandangan yang akrab di berbagai kompetisi sepak bola Eropa dan dunia. Di luar lapangan, Mohamed Salah beberapa kali menyerukan dihentikannya serangan terhadap warga sipil di Gaza dan mendesak dibukanya akses bantuan kemanusiaan.
Semangat serupa tampak pada sejumlah pemain Muslim lainnya, seperti Lamine Yamal. Dalam berbagai kesempatan, winger (sayap) timnas Spanyol itu menunjukkan simpati kepada rakyat Palestina, baik di dalam maupun di luar lapangan, melalui unggahan dan komentar di media sosial, pernyataan publik, maupun dukungan terhadap aksi-aksi kemanusiaan lainnya.
Pemain top lainnya seperti Sadio Mane (Senegal) juga menunjukkan hal serupa. Putra seorang Imam masjid itu dikenal sebagai seorang yang berjiwa sosial tinggi. Ia menggunakan sebagian besar gajinya untuk memberi beasiswa, membangun rumah sakit, masjid, sekolah dan berbagai fasilitas publik dan infrastruktur di desanya, Bambali (Senegal bagian selatan).
Baca Juga: Berubah ke Arah yang Lebih Baik
Atas kedermawanannya, ia mendapat penghargaan Socrates Award (2022) sebagai pemain yang paling berkontribusi dalam perubahan sosial di masyarakat. Tidak berlebihan rasanya jika itu semua adalah wujud pengamalan ajaran dan nilai-nilai Islam seperti yang disebut dalam Al-Qur’an Surah Al-Ma’un [107] ayat 1-6.
Di kalangan penonton, dukungan terhadap Palestina juga datang dari tribun. Suporter Celtic FC di Skotlandia selama bertahun-tahun konsisten membentangkan bendera Palestina dalam pertandingan-pertandingan penting.
Di Maroko, pendukung Raja Casablanca dan Wydad Casablanca juga berulang kali menampilkan koreografi solidaritas untuk Gaza. Fenomena ini menunjukkan bahwa sepak bola mampu menjadi ruang perjumpaan nurani, tempat menyebarkan pesan-pesan dakwah yang mampu melintasi batas negara, suku, dan agama.
Fenomena tersebut menjadi bukti bahwa Palestina tidak pernah benar-benar hilang dari perhatian dunia. Justru di tengah gegap gempita pertandingan, selalu ada orang-orang yang mengingatkan bahwa masih ada bangsa yang hidup di bawah pendudukan, kehilangan rumah, keluarga, bahkan hak untuk bermain sepak bola di tanah kelahirannya sendiri.
Baca Juga: Al-Aqsa Cahaya Keberkahan yang Menyinari Alam Semesta Sepanjang Masa
Di sisi lain, sepak bola juga mengajarkan pentingnya kepemimpinan dan ketaatan. Di lapangan, setiap pemain memiliki tugas yang berbeda, tetapi seluruhnya bergerak mengikuti strategi yang telah disusun pelatih. Tanpa disiplin dan kepatuhan terhadap arahan, permainan akan kehilangan keseimbangan.
Sepak bola mengajarkan bahwa kemenangan tidak pernah lahir dari kehebatan individu semata. Sebaik apa pun seorang penyerang, ia tetap membutuhkan umpan akurat dari pemain lain, ketangguhan pemain bertahan, kepiawaian penjaga gawang serta strategi dari Sang Pelatih.
Di sinilah nilai-nilai sepak bola menjadi pelajaran, bahwa kerja sama tim sangat menentukan kesuksesan. Kemenangan adalah hasil kerja kolektif, bukan ego pribadi.
Dalam Islam, itulah yang disebut dengan kehidupan berjamaah. Taat kepada pemimpin dan semangat pantang menyerah adalah salah satu kunci utama kesuksesan. Dalam konteks dakwah, keberhasilan lahir dari gerakan dan kerja kolektif yang terorganisasi dengan baik. Nilai-nilai seperti itulah yang perlu terus kita bangkitkan dalam perjuangan melawan kedzaliman dan penjajahan.
Baca Juga: Keutamaan Al-Qur’an: Dari Musabaqah untuk Diamalkan dalam Kehidupan
Di sinilah agama, sepak bola, dan Palestina bertemu dalam satu titik. Agama memberikan fondasi akidah dan akhlak, sepak bola menyediakan panggung yang menjangkau miliaran manusia, sedangkan Palestina menghadirkan arah perjuangan agar popularitas tidak berhenti pada hiburan semata.
Ketika ketiganya berjalan beriringan, lapangan hijau tidak lagi hanya sekadar menjadi tempat mencetak gol, tetapi juga ruang untuk menyampaikan pesan-pesan keadilan, membangun persaudaraan, dan mengingatkan dunia bahwa kemerdekaan serta martabat manusia adalah nilai yang harus terus diperjuangkan.
Piala Dunia 2026 pun semestinya tidak hanya dikenang karena lahirnya juara baru atau terciptanya gol-gol indah. Lebih dari itu, turnamen akbar ini harus menjadi momentum untuk menunjukkan bahwa olahraga dapat menjadi jalan dakwah, media pendidikan karakter, dan mimbar kemanusiaan.
Selama masih ada panggung yang didengar dunia, selama itu pula suara tentang kekejaman penjajahan Zionis Israel dan perjuangan kemerdekaan Palestina tidak boleh berhenti dikumandangkan. Itulah kemenangan yang sesungguhnya: ketika olahraga menjadi sarana membangkitkan solidaritas, dan setiap sorak kemenangan menguatkan harapan bagi perjuangan kemanusiaan.
Baca Juga: Hukuman Potong Tangan: Alternatif Mengatasi Kejahatan Korupsi
Maka, marilah kita mengembangkan olahraga sebagai sarana meraih prestasi, membangun persaudaraan, dan menjaga kesehatan. Jadikan agama sebagai kompas yang mengarahkan setiap langkah agar popularitas menjadi ajang menghadirkan kemaslahatan bagi manusia.
وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَاب
Mi’raj News Agency (MINA)
















Mina Indonesia
Mina Arabic