Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ketika Jasad, Pikiran, dan Ruh Menuntut Keseimbangan

Widi Kusnadi Editor : Rudi Hendrik - Senin, 8 Desember 2025 - 20:13 WIB

Senin, 8 Desember 2025 - 20:13 WIB

98 Views ㅤ

Hidup ini ibarat pohon, ia harus bisa menebar manfaat (foto: ig)

ADA satu hukum alam yang tak pernah berubah sejak manusia diciptakan: hidup hanya dapat berjalan baik jika kita menjaga keseimbangan. Para ulama menyebutnya dengan kata tawazun, sebuah prinsip yang mengajak manusia berdiri tegak di tengah-tengah—tidak berlebih, tidak pula mengabaikan.

Di era yang serba cepat ini, banyak dari kita baru menyadari pentingnya keseimbangan setelah tubuh jatuh sakit, pikiran kusut, atau ruh terasa kosong. Padahal Allah Ta’ala sudah lama mengingatkan:

﴿ وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا ﴾

 “Dan demikianlah Kami jadikan kamu umat yang pertengahan…” (QS. Al-Baqarah: 143)

Baca Juga: Pejuang Media: Jihad dengan Suara dan Tulisan di Era Kompetisi Global

Menurut Imam Al-Ṭhabari, makna ummatan wasathan adalah umat yang adil, proporsional, dan seimbang dalam segala urusan, baik ibadahnya, akhlaknya, ekonominya, termasuk dalam memelihara jasad dan jiwanya.

Jasad: Penopang Gerak Kehidupan

Tubuh adalah sarana utama yang memungkinkan kita beribadah dan melakukan amal shaleh. Agar mampu menjalankan tugas ini dengan maksimal, tubuh membutuhkan perhatian: makan dan minum yang sesuai kebutuhan, berolah raga secara teratur, dan waktu istirahat yang cukup.

Ketika tubuh terabaikan, dampaknya tidak hanya fisik, tetapi bisa menjalar ke pikiran yang menjadi gelap, dan ruh pun melemah, sehingga keseimbangan hidup terganggu.

Baca Juga: Konser Andrea Bocelli antara HAM dan Pembelaan terhadap Palestina

Karena itulah Rasulullah ﷺ menekankan pola hidup yang sederhana namun luar biasa bermanfaat. Beliau bersabda, yang artinya: “Cukuplah bagi anak Adam beberapa suap makanan untuk menegakkan tulang punggungnya…” (HR. At-Tirmidzi)

Dulu kita mengenal konsep empat sehat lima sempurna. Namun seiring perkembangan ilmu gizi, pola itu kini dianggap tidak lagi relevan. Para ahli mendorong pendekatan yang lebih seimbang: makan secara proporsional, dengan porsi sayur, buah, protein, dan karbohidrat yang tepat, serta cukup minum air. Pola ini sejalan dengan ajaran Islam yang menekankan kecukupan dan larangan berlebihan:

﴿ كُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا… ﴾

“Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan.” (QS. Al-A‘raf: 31)

Baca Juga: Harapan Perdamaian untuk Arab Saudi dan Houthi

Sayangnya, banyak dari kita masih mengabaikan prinsip sederhana ini. Hasilnya terlihat jelas: pasien rumah sakit membludak, antrean obat semakin panjang, dan tubuh sering cepat lelah. Semua ini adalah buah dari ketidakseimbangan yang terus dibiarkan.

Puasa, olahraga, dan istirahat cukup merupakan tiga pilar kesehatan jasad. Ulama bahkan menyebut praktik ini sebagai cara untuk “menjernihkan darah dan menenangkan hati.”

Dengan demikian, menjaga kesehatan bukan sekadar kewajiban fisik, tetapi juga ibadah yang merawat jiwa dan pikiran, sekaligus menyiapkan tubuh agar mampu menunaikan tugas-tugas hidup dengan optimal.

Pikiran: Lentera yang Harus Terus Dinyalakan

Baca Juga: Masjid Al-Aqsa, Kiblat Pertama, Arah Sujud yang  Mengikat Hati Orang Beriman

Pikiran manusia tidak diberi batas usia. Ia akan hidup selama diberi “nutrisi” Apa nutrisi bagi pikiran? Yaitu: membaca, belajar, menganalisis, dan mencari solusi.

Sebagian ulama mengatakan: “Menggerakkan akal juga merupakan olahraga terbaik bagi tubuh.”

Pikiran yang tajam membuat fisik bekerja lebih ringan. Seseorang bisa duduk di kursi, mengatur strategi, memberi instruksi, namun hasil kerjanya melampaui mereka yang bekerja dengan otot saja.

Jika ada orang lulusan S1, tetapi cara berpikirnya seperti anak SD—karena akalnya jarang diberi nutrisi. Sebaliknya ada lulusan S1 yang mampu berdebat dengan profesor karena pikirannya terus diasah.

Baca Juga: Menyongsong Bulan Solidaritas Palestina

Jika pikiran tidak diberi makan, ia menjadi sempit, mudah marah, dan sulit menemukan solusi. Begitu pikiran kusut, tubuh ikut lelah, ruh menjadi gelisah.

Dalam beberapa ayat dalam Al-Qur’an, Allah Ta’ala memerintahkan kita untuk terus berpikir:

﴿ أَفَلَا تَعْقِلُونَ ﴾

“Tidakkah kamu menggunakan akalmu?”

Baca Juga: Menjadi Jurnalis Terbaik: Ketika Pena Menjadi Amanah dan Kebenaran Menjadi Jalan

Ibn Katsir menjelaskan bahwa ayat-ayat semacam ini adalah seruan agar manusia menghidupkan akalnya, karena akal yang sehat adalah cahaya yang menuntun perilaku.

Namun pikiran juga perlu istirahat. Refreshing bukan kemewahan, tetapi kebutuhan. Tubuh yang dipaksa bekerja tanpa henti akan memberontak. Allah menciptakan malam untuk istirahat sebagai bagian dari sunnatullah.

Ruh: Kompas yang Menentukan Arah Hidup

Jasad bisa kuat, pikiran bisa cerdas. Tetapi tanpa ruh yang sehat, keduanya melaju tanpa arah.

Baca Juga: Rapuhnya Kekuatan Selain Allah

Ruh adalah pusat ketenangan, kebijaksanaan dan hidayah. Makanannya adalah ibadah—fardhu dan sunnah.

Ketika ruh diberi makanan yang cukup, manusia menjadi tenang, lapang, dan mudah mensyukuri setiap takdir.

Allah berfirman:

﴿ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ﴾

Baca Juga: Hakikat Memberi: Refleksi Diri dalam Setiap Kebaikan

“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.” (QS. Ar-Ra’d: 28)

Ruh bagaikan nahkoda dalam sebuah kapal. Jika ia sakit, maka kapal akan mudah terbawa gelombang kehidupan, gelisah menghadapi masalah, meski hanya urusan kecil, dan cepat putus asa ketika ujian datang dan tak kunjung terselesaikan.

Ia cenderung mencari pelampiasan di jalan yang salah, mudah tergoda maksiat, dan hatinya terasa hampa meski jasad dan pikiran tampak baik.

Sebaliknya, ruh yang sehat adalah kompas yang menuntun seluruh diri. Ia menumbuhkan ketenangan di tengah badai, mengajarkan manusia untuk berserah diri dan tawakal kepada Allah, menumbuhkan rasa syukur atas setiap nikmat, kesabaran dalam menghadapi ujian, serta ridha menerima takdir yang diberikan Sang Pencipta.

Baca Juga: 7 Amalan Ringan di Usia Senja, Menjemput Berkah Meraih Husnul Khatimah

Kehadiran ruh yang sehat membuat jasad lebih ringan, pikiran lebih jernih, dan seluruh kehidupan menjadi selaras dengan kehendak-Nya.

Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa ketika ruh kuat, ia akan “menarik jasad dan pikiran ikut kepada kebaikan.” Namun jika ruh lemah, jasad dan akal pun ikut terseret ke dalam gelombang syahwat dan kebingungan.

Hidup yang Seimbang adalah Hidup yang Bahagia

Hidup yang seimbang bagaikan sungai yang tenang: alirannya tidak tersumbat, airnya jernih, dan tepinya subur. Manusia juga diciptakan dengan tiga unsur yang saling terkait jasad, pikiran, dan ruh yang harus berjalan selaras.

Baca Juga: Menikah In This Economy? Rezeki Dijamin Allah, Bukan Slip Gaji

Jasad yang sehat menjadi fondasi bagi pikiran yang jernih, dan pikiran yang tajam menuntun ruh menuju ketenangan. Begitu ruh dipelihara, jasad terasa ringan dan pikiran luas, sehingga kehidupan menjadi harmonis, penuh makna, dan damai.

Pikiran yang cerdas adalah lentera yang menerangi langkah kita. Ia memungkinkan kita bekerja dengan efisien tanpa membebani tubuh, menyelesaikan masalah dengan bijak, dan tetap tenang dalam menghadapi ujian.

Begitu pula ruh yang sehat memberi arah, bagaikan kompas yang menunjukkan jalan menuju ridha Allah. Ketika jasad, pikiran, dan ruh selaras, setiap aktivitas menjadi ringan, setiap keputusan lebih tepat, dan setiap ibadah lebih khusyuk.

Hidup yang terbaik tercapai saat kita memberi hak masing-masing unsur. Ibadah, kerja, dan belajar bukanlah kegiatan yang berdiri sendiri, melainkan saling melengkapi. Jasad yang terjaga kesehatannya, pikiran yang terus diasah, dan ruh yang diberi asupan ibadah akan menciptakan keseimbangan yang membentuk manusia kuat, tangguh, dan bermartabat.

Inilah tawazun, keseimbangan yang dianjurkan para ulama salaf, yang menjadikan kehidupan manusia penuh keteguhan dan kemuliaan.

Keseimbangan bukan sekadar teori, melainkan gaya hidup yang harus dirasakan setiap hari. Seperti alam yang menyeimbangkan hujan dan tanah, sungai dan laut, manusia pun harus menyeimbangkan jasad, akal, dan ruh. Ketika ini tercapai, hidup menjadi lebih utuh, sehat, dan selaras dengan fitrah. Setiap langkah menjadi ibadah, setiap pekerjaan menjadi amal, dan setiap perenungan menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah.

Semoga Allah menjadikan kita umat yang mampu berdiri tegak, seimbang dalam ibadah, bijak dalam bekerja, luas dalam berpikir, dan mampu memberi manfaat kepada sesama manusia.

Dengan keseimbangan ini, hidup tidak hanya bahagia, tetapi juga menjadi cerminan hamba yang taat, selaras dengan semesta, dan membawa keberkahan bagi diri sendiri, keluarga, dan lingkungan sekitar. []

Mi’raj News Agency (MINA)

Rekomendasi untuk Anda

Hikmah
Tausiyah
Tausiyah
MINA Health
Tausiyah