Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dari Nabi Nuh hingga Nabi Muhammad: Satu Syariat, Berjama’ah, Tidak Berpecah Belah

Ali Farkhan Tsani - Senin, 22 Juni 2026 - 19:24 WIB

Senin, 22 Juni 2026 - 19:24 WIB

90 Views ㅤ

Ilustrasi: Shalat Jumat berjamaah di Masjid Al Aqsa. (Foto: X)

PERNAHKAH kita merenungkan, mengapa sejak zaman Nabi Nuh ‘Alaihis Salam, Allah sudah mengingatkan umat manusia tentang satu hal yang sangat penting? Bukan tentang teknologi, bukan tentang kekayaan, bukan tentang kemegahan istana. Tetapi tentang persatuan. Tentang berjamaah. Tentang tidak berpecah-belah.

Allah berfirman dalam Surat Asy-Syura ayat 13:

شَرَعَ لَكُم مِّنَ الدِّينِ مَا وَصَّىٰ بِهِ نُوحًا وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَىٰ وَعِيسَىٰ ۖ أَنْ أَقِيمُوا الدِّينَ وَلَا تَتَفَرَّقُوا فِيهِ

“Dia telah mensyariatkan bagimu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh, dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu (Muhammad), dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa, dan Isa, yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah-belah tentangnya.” (Q.S. Asy-Syura [42]: 13)

Baca Juga: Pejuang Media: Jihad dengan Suara dan Tulisan di Era Kompetisi Global

Mari kita perhatikan. Firman ini bukan hanya untuk Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, tetapi juga untuk Nabi Nuh ‘Alaihis Salam, yang hidup ribuan tahun sebelumnya. Ini adalah pesan lintas zaman. Ini adalah wasiat para nabi. Kesinambungan syariat dari Allah.

Bayangkanlah, sejak ribuan tahun yang lalu, sejak bahtera Nabi Nuh ‘Alaihis Salam berlayar mengarungi banjir besar, Allah sudah mengingatkan, “Jangan berpecah-belah.” Mengapa? Karena perpecahan adalah pintu masuk kehancuran. Persatuan adalah kunci kemenangan.

Para Nabi Ulul Azmi

Di dalam ayat ini, Allah menyebutkan lima nama nabi agung. Mereka adalah Ulul Azmi, para Rasul yang memiliki keteguhan hati paling luar biasa, yaitu:

Baca Juga: Konser Andrea Bocelli antara HAM dan Pembelaan terhadap Palestina

  • Nabi Nuh ‘Alaihis Salam, yang berdakwah selama 950 tahun, yang keturunan kemudian tinggal di Palestina, yang saat ini disebut dengan Ardhu Kan’an.
  • Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam, yang menghancurkan berhala dan diuji dengan api, yang  kemdian hijrah dari negeri kelahirannya Babylonia (kini Irak), menuju negeri penuh berkah, yakni Ardhu Kan’an, atau Palestina sekarang.
  • Nabi Musa ‘Alaihis Salam, yang melawan Firaun dan membelah lautan, yang mendapat amanah untuk memasuki Kawasan Baitul Maqdis. Walaupun belum bisa memaukinya karena wafat terlebih dahulu.
  • Nabi Isa ‘Alaihis Salam, yang lahir tanpa ayah dan diangkat ke langit, dan berdakwah di Kawasan Baitul Maqdis, Palestina.
  • Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, penutup para Nabi dan pembawa rahmat bagi seluruh alam, yang diperjalankan dalam Isra Mi’raj dari Masjidil Haram di Makkah ke Masjidil Aqsa di Palestina.

Meskipun mereka hidup di zaman yang berbeda, di tempat yang berbeda, dan menghadapi situasi yang berbeda, pesan mereka sama, yakni menegakkan agama dan tidak berpecah-belah.

Saudaraku, ini bukan kebetulan. Ini adalah kesatuan risalah. Sebab agama yang dibawa oleh para Nabi adalah satu, yakni Islam, berserah diri kepada Allah semata.

Allah tidak pernah mengirimkan Nabi yang mengajarkan perpecahan. Setiap Nabi yang diutus, tujuannya adalah menyatukan umat di atas kalimat tauhid, bukan memecah belah.

Tafsir As-Sa’di: “Inilah Karunia Terbesar”

Baca Juga: Harapan Perdamaian untuk Arab Saudi dan Houthi

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini adalah karunia terbesar yang Allah limpahkan kepada hamba-hamba-Nya. Karunia itu adalah Islam, agama yang paling utama, paling suci, dan paling bersih.

Allah mensyariatkan Islam bukan untuk sembarang hamba, tetapi untuk orang-orang pilihan di antara hamba-Nya. Dan di antara yang terpilih adalah para Ulul Azmi, manusia yang paling tinggi moralnya, paling sempurna derajatnya, dan paling teguh pendiriannya.

Lalu Allah berfirman, “Tegakkanlah agama.”

Artinya, Allah memerintahkan kepada kalian, wahai para Nabi dan pengikutnya, untuk menegakkan seluruh syariat, baik prinsip-prinsipnya maupun cabang-cabangnya. Bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi untuk orang lain. Saling tolong-menolong dalam kebajikan dan takwa. Jangan saling tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan.

Baca Juga: Masjid Al-Aqsa, Kiblat Pertama, Arah Sujud yang  Mengikat Hati Orang Beriman

Dan kemudian Allah menambahkan, “Dan janganlah kamu berpecah-belah tentangnya.”

Artinya, Bersatulah! Jangan biarkan perselisihan memecah belah umat. Jangan biarkan perbedaan pendapat menjadi perpecahan. Jangan biarkan semangat golongan mengalahkan semangat persaudaraan.

Berjamaah: Bukan Hiasan, Tapi Kebutuhan

Mari perhatikanlah bagaimana Islam dibangun di atas fondasi kebersamaan:

Baca Juga: Menyongsong Bulan Solidaritas Palestina

  • Shalat berjamaah. Lima kali sehari, umat Islam berkumpul dalam satu barisan.
  • Shalat Jumat. Pekanan, jutaan Muslim berkumpul di masjid-masjid.
  • Haji. Tahunan, jutaan manusia dari berbagai bangsa bersatu dalam satu pakaian, satu gerakan, satu doa.
  • Idul Fitri dan Idul Adha. Hari raya yang dirayakan bersama, bukan sendirian.
  • Jihad. Perjuangan melawan kezaliman yang tidak mungkin dilakukan sendirian.

Apakah semua ini kebetulan? Tentu tidak. Islam adalah agama berjamaah. Bukan agama individualis. Bukan agama yang mengajarkan egoisme. Bukan agama yang membiarkan umatnya berpecah-belah.

Allah berfirman dalam ayat lain:

وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَجَعَلَهُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَكِن يُدْخِلُ مَن يَشَاءُ فِي رَحْمَتِهِ

“Dan kalau Allah menghendaki, niscaya Allah menjadikan mereka satu umat saja. Tetapi Dia memasukkan orang-orang yang dikehendaki-Nya ke dalam rahmat-Nya.” (Q.S. Asy-Syura [42]: 8).

Baca Juga: Menjadi Jurnalis Terbaik: Ketika Pena Menjadi Amanah dan Kebenaran Menjadi Jalan

Mereka yang berada di dalam rahmat Allah adalah mereka yang bersatu. Mereka yang berjamaah. Mereka yang tidak berpecah-belah.

Di dalam hadits, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

اَلْجَمَاعَةُ رَحْمَةٌ وَالْفُرْقَةُ عَذَابٌ

“Berjamaah adalah rahmat, sedangkan berpecah-belah adalah azab.” (HR Ahmad).

Baca Juga: Rapuhnya Kekuatan Selain Allah

Subhanallah. berjamaah adalah rahmat. Perpecahan adalah azab. Begitu sederhana, tetapi begitu dalam maknanya.

Berat bagi Orang Musyrik, Ringan bagi Orang Beriman

Ayat ini juga mengungkapkan bahwa ajakan kepada tauhid dan persatuan terasa sangat berat bagi orang-orang musyrik. Mereka merasa terbebani dengan seruan untuk mengesakan Allah. Mereka lebih nyaman dengan perpecahan, karena perpecahan memungkinkan mereka untuk tetap berada dalam kesesatan.

Jangan heran jika ada orang-orang yang justru senang melihat umat Islam terpecah-belah. Jangan heran jika ada pihak-pihak yang dengan sengaja menanamkan benih perselisihan di antara kaum Muslimin. Mereka tahu bahwa umat yang terpecah adalah umat yang lemah. Mereka tahu bahwa umat yang bersatu adalah umat yang ditakuti.

Baca Juga: Hakikat Memberi: Refleksi Diri dalam Setiap Kebaikan

Maka dari itu, marilah kita tidak menjadi alat bagi mereka. Marilah kita menjadi bagian dari solusi, bukan bagian dari masalah.

Seruan Satu Barisan

Begitulah, dari Nabi Nuh ‘Alaihis Salam hingga Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wasallam, pesan Allah tidak pernah berubah, yakni tegakkan agama, dan jangan berpecah-belah.

Marilah kita jadikan ayat ini sebagai renungan. Marilah kita jadikan persatuan sebagai komitmen. Marilah kita jadikan hidup berjamaah sebagai rumah kita kaum Muslimin.

Baca Juga: 7 Amalan Ringan di Usia Senja, Menjemput Berkah Meraih Husnul Khatimah

Karena jika kita bersatu, tidak ada kekuatan di dunia ini yang mampu mengalahkan kita. Jika kita bersatu, Al-Aqsa akan kembali ke pangkuan umat Islam. Jika kita bersatu, Palestina akan merdeka. Jika kita bersatu, kejayaan Islam akan kembali.

Karena persatuan adalah kunci kemenangan. Dan perpecahan adalah pintu kehancuran.

Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang bersatu, yang berjamaah, dan yang selalu berada di jalan-Nya yang lurus.

Aamiin, ya Rabbal ‘alamin.

Baca Juga: Menikah In This Economy? Rezeki Dijamin Allah, Bukan Slip Gaji

Mi’raj News Agency (MINA)

Rekomendasi untuk Anda

Hikmah
Khadijah
Indonesia