Oleh Deni Rahman, Petugas PPIH Arab Saudi 2026, Bertugas di Sektor 2 Mekkah.
DI TENGAH jutaan jamaah haji yang memadati Tanah Suci setiap tahun, ada satu bentuk pelayanan yang tampak sederhana tetapi memiliki makna yang sangat agung dalam sejarah Islam, yaitu memberi minum kepada jamaah haji. Dalam tradisi Islam, pelayanan ini dikenal dengan istilah السِّقَايَةُ (as-siqāyah ).
Istilah ini mungkin tidak terlalu populer di kalangan masyarakat awam hari ini, namun dalam sejarah haji, as-siqāyah merupakan salah satu bentuk kehormatan terbesar dalam melayani para tamu Allah.
Secara bahasa, kata as-siqāyah berasal dari akar kata سَقَى – يَسْقِي – سِقَايَةً yang berarti memberi minum, menyediakan air, atau mengalirkan air kepada orang lain.
Baca Juga: Pejuang Media: Jihad dengan Suara dan Tulisan di Era Kompetisi Global
Karena itu, as-siqāyah secara sederhana dapat dipahami sebagai aktivitas menyediakan air dan minuman bagi jamaah haji. Namun dalam praktik sejarahnya, istilah ini memiliki makna sosial dan spiritual yang jauh lebih luas daripada sekadar membagikan air.
Dalam masyarakat Arab dahulu, pelayanan kepada jamaah haji sudah dikenal sebagai tradisi yang sangat mulia. Makkah saat itu merupakan wilayah yang panas dan kering, sementara jamaah datang dari berbagai penjuru Jazirah Arab dengan perjalanan yang panjang dan melelahkan. Air menjadi kebutuhan yang sangat vital bagi para hujjaj.
Orang-orang yang bertugas menyediakan air dan makanan bagi jamaah mendapatkan kedudukan sosial yang tinggi di tengah masyarakat Quraisy. Pelayanan terhadap jamaah adalah sebagai sebuah kehormatan.
Menurut sejarah, tugas as-siqāyah memiliki hubungan erat dengan keluarga Nabi Muhammad SAW, khususnya Bani Hasyim. Leluhur Nabi, yaitu Hasyim bin ‘Abd Manaf, dikenal sebagai tokoh yang sangat memperhatikan pelayanan jamaah haji. Ia menyediakan makanan dan minuman bagi jamaah dari hartanya sendiri sebagai bentuk penghormatan kepada para tamu Allah.
Baca Juga: Konser Andrea Bocelli antara HAM dan Pembelaan terhadap Palestina
Tradisi mulia ini kemudian dilanjutkan oleh Abdul Muththalib, kakek Rasulullah SAW, yang sangat dikenal dalam sejarah pengelolaan sumur Zamzam. Bahkan salah satu peristiwa penting dalam hidup Abdul Muththalib adalah upayanya menggali kembali sumur Zamzam yang sempat hilang dan tertutup selama bertahun-tahun.
Ini menunjukkan bahwa pelayanan terhadap jamaah haji, khususnya dalam bentuk as-siqāyah, memang memiliki hubungan historis yang kuat dengan keluarga Nabi Muhammad SAW. Mereka tidak hanya memuliakan Ka’bah, tetapi juga memuliakan para tamu yang datang untuk berhaji.
Dalam perkembangan selanjutnya, makna as-siqāyah tidak dihapus, tetapi justru dimuliakan dan diarahkan kepada nilai ketakwaan dan pelayanan kemanusiaan. Allah SWT bahkan menyebut siqāyah al-hajj dalam Al-Qur’an:
أَجَعَلْتُمْ سِقَايَةَ الْحَاجِّ وَعِمَارَةَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ كَمَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ…
Baca Juga: Harapan Perdamaian untuk Arab Saudi dan Houthi
“Apakah kalian menjadikan pelayanan minum bagi jamaah haji dan memakmurkan Masjidil Haram sama seperti orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir…” (QS. At-Taubah [9]: 19).
Ayat ini menunjukkan bahwa siqāyah al-hajj merupakan pekerjaan yang sangat dikenal dan dihormati dalam tradisi masyarakat Arab saat itu. Bahkan Al-Qur’an menjadikannya sebagai bagian penting dalam pembahasan tentang kemuliaan amal.
Selanjutnya, bentuk as-siqāyah tentu mengalami perubahan besar. Jika dahulu pelayanan air dilakukan secara sederhana melalui sumur dan wadah-wadah tradisional, maka hari ini pelayanan terhadap jamaah haji telah berkembang menjadi sistem besar berbasis teknologi dan manajemen modern.
Air zamzam tersedia di berbagai sudut Masjidil Haram dengan sistem distribusi yang tertata. Pendingin air tersebar di banyak titik. Layanan kesehatan jamaah memperhatikan kebutuhan cairan tubuh di tengah cuaca panas ekstrem.
Baca Juga: Masjid Al-Aqsa, Kiblat Pertama, Arah Sujud yang Mengikat Hati Orang Beriman
Bahkan distribusi konsumsi dan hidrasi jamaah saat puncak Armuzna menjadi bagian penting dari manajemen haji modern. Meskipun bentuknya berubah, ruh as-siqāyah tetap sama melayani dan memuliakan para tamu Allah.
Di sinilah menariknya jika konsep as-siqāyah dikaitkan dengan para petugas haji saat ini, termasuk petugas Haji Indonesia. Sebab pada hakikatnya, para petugas haji modern sedang melanjutkan semangat pelayanan yang dahulu diwariskan oleh para pelayan jamaah di masa lalu.
Para petugas haji saat ini tidak hanya memberi air minum, tetapi juga membantu jamaah lansia, mendampingi jamaah sakit, mengarahkan jamaah yang tersesat, menjaga konsumsi jamaah, membantu transportasi, dan memastikan jamaah dapat menjalankan ibadah dengan aman dan nyaman.
Dalam cuaca yang panas dan kepadatan jutaan manusia, pelayanan kecil seperti memberikan air kepada jamaah yang kelelahan bisa menjadi amal yang sangat besar nilainya di sisi Allah SWT.
Baca Juga: Menyongsong Bulan Solidaritas Palestina
Karena itu, semangat as-siqāyah sesungguhnya masih hidup hingga hari ini dalam wajah pelayanan haji modern. Jika dahulu pelayanan jamaah dilakukan dengan menyediakan air dan makanan secara langsung, maka hari ini pelayanan itu hadir dalam bentuk yang lebih luas dan lebih kompleks.
Islam sejak awal memang menempatkan pelayanan kepada manusia sebagai amal yang sangat mulia. Rasulullah SAW bersabda:
خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR. Ahmad).
Baca Juga: Menjadi Jurnalis Terbaik: Ketika Pena Menjadi Amanah dan Kebenaran Menjadi Jalan
Hadis ini sangat dekat dengan makna as-siqāyah. Sebab inti dari pelayanan jamaah haji adalah menghadirkan manfaat, pertolongan, dan kemudahan bagi orang lain dalam menjalankan ibadah mereka.
Di tengah dunia modern yang sering menonjolkan pencapaian pribadi, as-siqāyah justru mengajarkan nilai yang berbeda, bahwa kemuliaan lahir dari kesediaan melayani orang lain dengan tulus.
Maka, para petugas haji hari ini sesungguhnya sedang menjalankan tradisi pelayanan yang sangat mulia dalam sejarah Islam. Mereka melanjutkan jejak para pelayan tamu Allah yang sejak dahulu memuliakan jamaah dengan tenaga, pengorbanan, dan keikhlasan.
Dan mungkin di situlah salah satu rahasia kemuliaan pelayanan haji. Sebab boleh jadi, di tengah jutaan manusia yang sedang sibuk beribadah, ada petugas-petugas yang juga mendapatkan keutamaan besar karena sibuk membantu dan memudahkan ibadah orang lain.
Baca Juga: Rapuhnya Kekuatan Selain Allah
Wallahu a’lam bish showab []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Hakikat Memberi: Refleksi Diri dalam Setiap Kebaikan
















Mina Indonesia
Mina Arabic