Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menjadi Duta Akhlak Sepulang dari Tanah Suci

Redaksi Editor : Widi Kusnadi - Sabtu, 13 Juni 2026 - 09:27 WIB

Sabtu, 13 Juni 2026 - 09:27 WIB

35 Views ㅤ

Jamaah haji. (Foto: MINA)

Oleh: DR. Deni Rahman, S.Sos.I, M.I Kom, Petugas PPIH Arab Saudi 2026, Bertugas di Sektor 2 Mekkah

Allah SWT berfirman:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ

“Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah teladan yang baik bagimu.” (QS. Al-Ahzab: 21)

Baca Juga: Boleh Bersedih, Tapi Jangan Larut dalam Kesedihan

Ibadah haji merupakan perjalanan spiritual yang sangat istimewa dalam kehidupan seorang Muslim. Tidak sedikit orang yang harus menunggu bertahun-tahun, menabung dalam waktu yang lama, bahkan mempersiapkan fisik dan mental secara serius untuk dapat memenuhi panggilan Allah ke Baitullah. Namun sesungguhnya, ukuran keberhasilan haji tidak berhenti pada kemampuan menyelesaikan seluruh rangkaian manasik, melainkan pada perubahan diri yang lahir setelah seseorang kembali ke tanah air.

Setelah pulang dari Tanah Suci, seorang haji sejatinya memikul amanah baru. Bukan hanya penyandang gelar sosial “haji” atau “hajjah”, tetapi juga diharapkan menjadi teladan akhlak di tengah masyarakat. Ia dituntut untuk menjadi duta akhlak yang membawa nilai-nilai haji ke dalam kehidupan nyata.

Fenomena yang sering terjadi di tengah masyarakat adalah adanya penghormatan yang tinggi kepada orang yang telah menunaikan ibadah haji. Mereka biasanya dipanggil dengan sebutan “Pak Haji” atau “Bu Hajjah”, diminta memberikan nasihat, dipercaya memimpin kegiatan keagamaan, bahkan sering menjadi rujukan dalam berbagai persoalan sosial.

Penghormatan ini bukan sekadar bentuk penghargaan terhadap perjalanan ibadah yang telah dilakukan, tetapi juga merupakan harapan masyarakat bahwa seorang haji akan menampilkan kualitas akhlak yang lebih baik dibandingkan sebelumnya.

Baca Juga: Komunitas Sebagai Fondasi Umat dan Benteng Generasi

Harapan tersebut sesungguhnya sangat beralasan. Sebab selama menjalankan ibadah haji, seseorang telah menjalani proses pendidikan karakter yang luar biasa. Di Makkah, ia belajar keikhlasan. Di Arafah, ia belajar kerendahan hati. Di Muzdalifah, ia belajar kesederhanaan. Di Mina, ia belajar pengorbanan. Dalam thawaf, ia belajar ketaatan. Dalam sa’i, ia belajar kerja keras dan optimisme.

Jika seluruh pelajaran itu benar-benar meresap ke dalam dirinya, maka seharusnya lahir pribadi yang lebih matang secara spiritual dan lebih mulia secara akhlak. Rasulullah SAW bersabda:

إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ

“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak.” (HR. Ahmad)

Baca Juga: Kejahatan Yahudi Membuat Hatinya Keras Membatu

Hadis ini menunjukkan bahwa salah satu tujuan utama Islam adalah pembentukan akhlak. Oleh karena itu, keberhasilan ibadah tidak dapat dipisahkan dari kualitas perilaku seseorang. Haji yang mabrur tidak hanya melahirkan ahli ibadah, tetapi juga melahirkan pribadi yang berakhlak mulia. Pertanyaannya, seperti apakah bentuk akhlak yang harus ditampilkan oleh seorang haji setelah kembali dari Tanah Suci?

Pertama, akhlak kepada Allah SWT. Perjalanan haji seharusnya memperkuat hubungan seorang hamba dengan Rabbnya. Setelah berhaji, seseorang seharusnya lebih menjaga shalat, lebih dekat dengan Al-Qur’an, lebih banyak berdzikir, dan lebih berhati-hati dalam menjalani kehidupan. Allah SWT berfirman:

وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَىٰ

“Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.” (QS. Al-Baqarah: 197)

Baca Juga: Ustaz Amri Fatmi: Hidup Mewah Berdampak Luas pada Kerusakan Alam

Ayat ini secara tegas menyebutkan bahwa bekal utama dari ibadah haji adalah ketakwaan. Ketakwaan itulah yang kemudian menjadi fondasi bagi seluruh perilaku seorang Muslim.

Kedua, akhlak kepada keluarga. Sering kali masyarakat menilai kemabruran seseorang dari aktivitas keagamaannya di masjid. Padahal orang yang paling mengetahui kualitas akhlak seseorang adalah keluarganya sendiri.

Seorang haji yang mabrur seharusnya menjadi suami yang lebih penyayang, istri yang lebih sabar, ayah yang lebih bijaksana, dan ibu yang lebih lembut kepada anak-anaknya. Tidak ada gunanya seseorang dikenal sebagai ahli ibadah di luar rumah jika keluarganya sendiri tidak merasakan manfaat dari perubahan tersebut. Dalam konteks ini, keluarga adalah tempat pertama di mana kemabruran diuji.

Ketiga, akhlak kepada masyarakat. Selama berhaji, seseorang menyaksikan bagaimana jutaan manusia hidup berdampingan meskipun berbeda bahasa, budaya, dan bangsa. Pengalaman tersebut mengajarkan nilai persaudaraan dan toleransi sosial.

Baca Juga: Kehidupan Berbangsa dalam Perspektif Al-Qur’an

Karena itu, seorang haji seharusnya menjadi perekat persatuan, bukan sumber perpecahan. Ia hadir membawa ketenangan, bukan konflik. Ia menjadi solusi, bukan bagian dari masalah. Rasulullah SAW bersabda:

خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR. Ahmad)

Inilah salah satu ciri utama duta akhlak. Keberadaannya membawa manfaat bagi lingkungan sekitarnya.

Baca Juga: Perang Gaza dan Perubahan Persepsi Publik Amerika terhadap Palestina

Keempat, akhlak dalam bekerja dan menjalankan amanah. Kemabruran tidak hanya tampak dalam ibadah ritual, tetapi juga dalam profesionalisme dan integritas. Seorang haji yang mabrur akan lebih jujur dalam bekerja, lebih disiplin dalam menjalankan tugas, dan lebih bertanggung jawab terhadap amanah yang diberikan kepadanya. Ia memahami bahwa ibadah tidak hanya terjadi di masjid, tetapi juga di kantor, di pasar, di sekolah, dan di mana pun ia berada. Akhlak seperti inilah yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat dan bangsa.

Kelima, akhlak dalam bermedia dan berkomunikasi. Di era digital saat ini, setiap orang memiliki ruang untuk berbicara melalui media sosial. Sayangnya, tidak sedikit yang menggunakan media untuk menyebarkan kebencian, fitnah, dan permusuhan. Padahal seorang haji seharusnya menjadi teladan dalam menjaga lisan dan komunikasi. Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Baca Juga: Berubah ke Arah yang Lebih Baik

Hadis ini sangat relevan di era digital. Duta akhlak bukan hanya menjaga lisannya dalam percakapan langsung, tetapi juga menjaga tulisan, komentar, dan unggahannya di ruang publik.

Masyarakat tidak akan mengingat berapa kali seseorang melakukan thawaf, berapa banyak doa yang dipanjatkannya di Multazam, atau berapa lama ia berdiri di Arafah.

Hal yang akan diingat oleh masyarakat adalah bagaimana ia bersikap setelah pulang dari haji. Apakah ia menjadi lebih sabar? Apakah ia menjadi lebih jujur? Apakah ia menjadi lebih peduli? Apakah ia menjadi lebih bermanfaat?  Di situlah kemabruran menemukan bentuk nyatanya.

Karena sesungguhnya, setelah seseorang kembali dari Tanah Suci, ia membawa amanah yang lebih besar daripada sekadar oleh-oleh atau cerita perjalanan. Ia membawa nilai-nilai Islam yang harus dihadirkan dalam kehidupan sehari-hari.

Baca Juga: Al-Aqsa Cahaya Keberkahan yang Menyinari Alam Semesta Sepanjang Masa

Maka menjadi haji mabrur berarti menjadi duta akhlak. Menjadi wajah Islam yang ramah, jujur, santun, dan menebarkan manfaat di tengah masyarakat. Dan ketika masyarakat merasakan manfaat dari kehadiran seorang haji, saat itulah nilai-nilai   haji benar-benar hidup dan membumi.

Wallāhu a‘lam bi ash-shawāb.

Mi’raj News Agency (MINA)

Baca Juga: Keutamaan Al-Qur’an: Dari Musabaqah untuk Diamalkan dalam Kehidupan

Rekomendasi untuk Anda

Tausiyah
Tausiyah
Tausiyah