Oleh Imaam Yakhsyallah Mansur
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
قَالَ تَزْرَعُوْنَ سَبْعَ سِنِيْنَ دَاَبًاۚ فَمَا حَصَدْتُّمْ فَذَرُوْهُ فِيْ سُنْۢبُلِهٖٓ اِلَّا قَلِيْلًا مِّمَّا تَأْكُلُوْنَ ٤٧ قَالَ تَزْرَعُوْنَ سَبْعَ سِنِيْنَ دَاَبًاۚ فَمَا حَصَدْتُّمْ فَذَرُوْهُ فِيْ سُنْۢبُلِهٖٓ اِلَّا قَلِيْلًا مِّمَّا تَأْكُلُوْنَ ٤٧ ثُمَّ يَأْتِيْ مِنْۢ بَعْدِ ذٰلِكَ عَامٌ فِيْهِ يُغَاثُ النَّاسُ وَفِيْهِ يَعْصِرُوْنَࣖ ٤ (يوسف [١٢]٤٧ــ٤٩)
Baca Juga: Pejuang Media: Jihad dengan Suara dan Tulisan di Era Kompetisi Global
“(Yusuf) berkata, Bercocoktanamlah kamu tujuh tahun berturut-turut! Kemudian apa yang kamu tuai, biarkanlah di tangkainya, kecuali sedikit untuk kamu makan. [47] Kemudian, sesudah itu akan datang tujuh (tahun) yang sangat sulit (paceklik) yang menghabiskan apa yang kamu simpan untuk menghadapinya, kecuali sedikit dari apa (bibit gandum) yang kamu simpan. [48] Setelah itu akan datang tahun, ketika manusia diberi hujan (dengan cukup) dan pada masa itu mereka memeras (anggur). [49]” (QS Yusuf [12]: 47-49)
Ayat di atas adalah jawaban (takwil) Nabi Yusuf Alaihi Salam atas mimpi dari raja Mesir saat itu, bahwa dalam mimpinya ia melihat tujuh ekor sapi betina yang gemuk dimakan oleh tujuh ekor sapi berita yang kurus dan tujuh tangkai gandum yang hijau (segar) diikuti dengan tujuh tangkai gandum yang kering (QS. Yusuf [12]: 46).
Rasulullah ﷺ menyebut Nabi Yusuf Alaihi Salam sebagai “al-karim ibnul karim ibnil karim ibnil karim” (orang mulia, putra orang mulia, dari keturunan orang-orang mulia), yaitu Nabi Yusuf bin Nabi Ya’qub bin Nabi Ishaq bin Nabi Ibrahim Alaihimus Salam.
Nabi Yusuf Alaihi Salam dilahirkan di wilayah Al-Quds (Palestina) sekitar 1800–1700 SM. Sejak kecil, beliau menghadapi ujian berat dibuang ke dalam sumur oleh saudara-saudaranya, lalu ditemukan oleh seorang musafir dan dijual ke Mesir sebagai budak. Namun, perjalanan itu justru mengantarkannya pada kemuliaan hingga akhirnya diangkat menjadi bendahara kerajaan Mesir.
Baca Juga: Konser Andrea Bocelli antara HAM dan Pembelaan terhadap Palestina
Imam Ibnu Katsir Rahimahullah menjelaskan ayat di atas, mengambil pendapat dari sahabat Ibnu Abbas Radhiallahu anhu tentang pentingnya disiplin dalam konsumsi, tidak berlebih-lebihan (boros) meski dalam kondisi keberlimpahan dan menyimpan hasil panen untuk menghadapi masa-masa sulit (paceklik).
Sementara para mufasir lain memahami ayat di atas sebagai bentuk integrasi antara wahyu dan akal. Seorang pemimpin dituntut tidak hanya memiliki kecerdasan spiritual, tetapi juga kecerdasan strategis untuk dapat memecahkan berbagai permasalahan dalam masyarakat dan bangsa.
Ayat di atas menghadirkan prinsip-prinsip universal dalam mengelola krisis. Nabi Yusuf Alaihi Salam tidak hanya sekadar menafsirkan mimpi, tetapi juga memberi solusi yang rasional, dengan mengarahkan kebijakan ekonomi dan manajemen sosial.
Prof Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah menjelaskan, bahwa ayat ini mengandung prinsip perencanaan strategis jangka panjang, pengelolaan sumber daya, dan manajemen yang dibuat negara untuk menjamin keberlangsungan kehidupan masyarakat.
Baca Juga: Harapan Perdamaian untuk Arab Saudi dan Houthi
Ayat di atas mengajarkan bahwa krisis bukanlah “monster” yang harus ditakuti, tetapi sesuatu yang harus dikelola. Di sinilah Al-Qur’an memberi petunjuk, bahwa keselamatan masa depan masyarakat (bangsa) ditentukan oleh bagaimana mereka bersikap dan bertindak.
Jika dikaitkan dengan kondisi hari ini, pesan ayat tersebut terasa relevan. Krisis iklim ekstrem yang ditandai dengan kemarau panjang, kekeringan, dan ancaman gagal panen sejatinya adalah “tujuh tahun sulit” dalam bentuk modern. Bedanya, peringatan itu kini datang melalui data ilmiah, bukan mimpi raja.
Fenomena El Niño 2026 dan Bayang-Bayang Krisis Pangan Global
Lembaga internasional yang memantau iklim global, National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) merilis data probabilitas kemunculan El Niño sekitar 61–62% pada periode pertengahan 2026, yang berpotensi memicu gangguan besar pada sistem pertanian dunia.
Baca Juga: Masjid Al-Aqsa, Kiblat Pertama, Arah Sujud yang Mengikat Hati Orang Beriman
El Niño dikenal sebagai salah satu penggerak utama variabilitas iklim global yang dapat menyebabkan kekeringan di Asia Tenggara, India, dan Australia, sekaligus banjir di wilayah lain. Dampak ini tidak hanya bersifat ekologis, tetapi juga ekonomi, karena mempengaruhi produksi pangan global dan stabilitas harga.
Sementara di Indonesia, kondisi tersebut mulai terasa sejak awal tahun. Data resmi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan bahwa hingga akhir Maret 2026, sekitar 7 persen zona musim telah memasuki fase kemarau.
BMKG juga menyatakan, bahwa musim kemarau tahun ini tidak hanya datang lebih cepat, tetapi juga lebih ekstrem dibanding rata-rata normal.
Dampak nyata mulai terlihat di lapangan. Laporan dari lembaga Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) menyebutkan bahwa sejumlah wilayah seperti Nusa Tenggara, Kalimantan, dan sebagian Sulawesi telah mengalami kekeringan dengan kategori sedang hingga ekstrem.
Baca Juga: Menyongsong Bulan Solidaritas Palestina
Kondisi ini tidak hanya mengancam ketersediaan air bersih karena kekeringan, tetapi juga meningkatkan risiko gagal panen dan krisis pangan, terutama bagi masyarakat yang penghidupannya bergantung pada sektor pertanian.
Dalam konteks ini, tantangan terbesar bukan hanya memahami krisis tersebut, tetapi bagaimana meresponsnya secara serius, terencana, dan berkelanjutan sehingga dampaknya bisa dikendalikan.
Managemen Krisis Nabi Yusuf
Belajar dari kisah Nabi Yusuf Alaihi Salam, kita memahami bahwa krisis bukan sekadar ujian, tetapi peluang untuk membangun kekuatan. Ketika masa sulit dikelola dengan iman, kesabaran, dan perencanaan yang matang, maka kesulitan itu melahirkan ketahanan dan ketangguhan luar biasa, baik bagi individu maupun masyarakat.
Baca Juga: Menjadi Jurnalis Terbaik: Ketika Pena Menjadi Amanah dan Kebenaran Menjadi Jalan
Nabi Yusuf Alaihi Salam merancang manajemen krisis yang terstruktur dan visioner. Keberhasilan manajemen Nabi Yusuf Alaihi Salam merupakan perpaduan antara wahyu, ilmu, dan kecakapan manajerial.
Beliau bukan sekadar membangun kebijakan ekonomi, tetapi juga manifestasi dari sebuah keadilan sosial. Berikut lima strategi Nabi Yusuf Alaihi Salam dalam mengelola krisis:
Strategi pertama adalah kemampuan membaca potensi krisis sejak dini. Nabi Yusuf Alaihi Salam memahami mimpi raja sebagai siklus ekonomi yang rasional dan bisa diantisipasi. Di sinilah letak fondasi manajemen krisis: kesadaran bahwa ancaman bisa diprediksi, kemudian dipersiapkan antisipasinya.
Strategi kedua, perencanaan jangka panjang yang disiplin dan konsisten. Nabi Yusuf Alaihi Salam merumuskan langkah-langkah konkret dalam program kerjanya. Ia menetapkan masa subur harus dimanfaatkan secara maksimal untuk mengantisipasi masa-masa sulit. Ini menunjukkan pentingnya visi jangka panjang dalam kebijakan publik.
Baca Juga: Rapuhnya Kekuatan Selain Allah
Strategi ketiga, pengelolaan cadangan pangan yang cermat dan berbasis ilmu. Nabi Yusuf Alaihi Salam memerintahkan agar hasil panen disimpan bersama tangkainya, sebuah metode yang secara ilmiah terbukti mampu menjaga ketahanan gandum lebih lama.
Strategi keempat adalah pengendalian konsumsi dan penanaman disiplin sosial. Masyarakat tidak dibiarkan larut dalam euforia kelimpahan. Mereka diarahkan untuk mengonsumsi secukupnya dan selebihnya disimpan.
Dalam perspektif ekonomi Islam, hal ini menunjukkan pentingnya keseimbangan antara produksi dan konsumsi. Pemikir kontemporer seperti Yusuf al-Qaradawi dalam Fiqh az-Zakah menekankan bahwa keadilan sosial hanya bisa terwujud jika distribusi dan konsumsi diatur dengan bijak.
Strategi kelima adalah membangun sistem distribusi yang adil dan terorganisir. Ketika masa paceklik tiba, cadangan pangan tidak dibiarkan dikuasai segelintir orang, tetapi dikelola oleh negara untuk kepentingan seluruh rakyat.
Baca Juga: Hakikat Memberi: Refleksi Diri dalam Setiap Kebaikan
Nabi Yusuf Alaihi Salam memastikan bahwa tidak ada kelompok yang kelaparan akibat ketimpangan distribusi. Hal ini menunjukkan bahwa manajemen krisis tidak hanya soal produksi, tetapi juga soal keadilan sosial.
Keberhasilan strategi ini tidak terlepas dari kepemimpinan yang amanah dan kompeten. Para ulama melihat ini sebagai legitimasi bahwa jabatan boleh diminta jika seseorang memiliki kemampuan dan integritas. Dalam konteks ini, kepemimpinan bukan sekadar posisi, tetapi tanggung jawab untuk menjaga keberlangsungan hidup masyarakat.
Pemikir Muslim kontemporer Yusuf al-Qaradawi dalam Fiqh az-Zakah menegaskan bahwa negara memiliki tanggung jawab besar dalam menjamin kebutuhan dasar masyarakat, termasuk pangan. Ia menekankan bahwa keadilan distribusi adalah bagian dari keadilan sosial yang harus diwujudkan.
Jika ditarik ke konteks modern, pendekatan Nabi Yusuf Alaihi Salam sejalan dengan pemikiran seorang ilmuwan dan tokoh lingkungan asal India, Vandana Shiva yang dalam karyanya “Soil Not Oil: Environmental Justice in an Age of Climate Crisis” menekankan pentingnya sistem pangan yang berkelanjutan dan berbasis kemandirian.
Baca Juga: 7 Amalan Ringan di Usia Senja, Menjemput Berkah Meraih Husnul Khatimah
Ia menegaskan bahwa krisis pangan global bukan semata akibat alam, tetapi karena kegagalan manusia dalam mengelola sumber daya secara bijak. Sikap boros, kebijakan yang eksploitatif, dan tidak berorientasi jangka panjang membuat masyarakat kehilangan daya tahan ketika krisis datang.
Maka, krisis iklim ekstrem yang terjadi saat ini semestinya menjadi titik tolak perubahan, menuju ketahanan masyarakat yang berlandaskan nilai-nilai spiritual, ditopang manajemen yang visioner, serta bermuara pada terwujudnya masyarakat yang berkeadilan sosial. []
وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Menikah In This Economy? Rezeki Dijamin Allah, Bukan Slip Gaji
















Mina Indonesia
Mina Arabic