KHUTBAH Jumat edisi kali ini berjudul “Bersatu dalam Jama’ah, Bersaudara Karena Allah, Jalan Membebaskan Al-Aqsa” yang ditulis oleh Ali Farkhan Tsani, Duta Al-Quds Internasional yang juga Wartawan Kantor Berita MINA (Minanews).
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ جَعَلَ الْإِيْمَانَ نُوْرًا فِي الْقُلُوْبِ
وَجَعَلَ التَّقْوَى زَادًا إِلَى الْمَحْبُوْبِ
وَجَعَلَ الْجَمَاعَةَ رَحْمَةً وَالْفُرْقَةَ عَذَابًا
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. أَمَّا بَعْدُ
أَمَّا بَعْدُ. فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ
Ma’asyiral muslimin, jama’ah Jum’at yang dirahmati Allah
Alhamdulillah, yang di tangan kuasa-Nya waktu dan musim bergulir silih berganti. Siang dan malam silih beriringan. Takdir-Nya mengalir di setiap Langkah hamba-hamba-Nya.
Alhamdulillah, yang dengan rahmat-Nya kita masih dipertemukan dengan Sayyidul Ayyam, penghulu segala hari, rajanya masa, yakni hari Jumat yang agung, yang di dalamnya doa-doa mustajab dan pahala dilipatgandakan.
Baca Juga: Khutbah Jumat: Merajut Ishlah Mewujudkan Ukhuwah Islamiyah
Lebih istimewa lagi, karena kita baru saja melintasi gerbang tahun baru dalam perjalanan hijrah menuju keridhaan-Nya. Kita menapaki bulan Muharram yang mulia, bulan Allah yang suci, dan kita telah menunaikan puasa ‘Asyura sebagai wujud syukur dan cinta kepada Nabi Musa ‘Alaihis Salam, yang Allah turunkan Kitab Taurat kepadanya. Sekaligus bentuk syukur dan cinta kepada baginda Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, yang Allah turunkan Al-Quran kepadanya, sebagai penyempurna Kitab Taurat dan Kitab Injil.
Semoga amal-amal kita di awal tahun ini menjadi pembuka pintu-pintu kebaikan dan keberkahan yang besar di sepanjang tahun 1448 Hijriyah.
Allahumma sholli ‘alaa Muhammad, shalawat teriring salam kepada sang pembawa cahaya, sang penuntun jiwa-jiwa yang gelisah. Dialah yang mengantarkan manusia dari lembah kegelapan jahiliyah menuju puncak hidayah, dari lautan permusuhan menuju daratan persaudaraan, dari perpecahan menuju kokohnya persatuan dan kesatuan di bawah naungan iman.
Dialah yang mengajarkan bahwa ukhuwah tidak dibangun di atas kebencian, darah atau harta. Melainkan di atas ketulusan hati dan kebersamaan dalam menjunjung kalimat Allah. Dialah yang mempersatukan Aus dan Khazraj, Muhajirin dan Anshar, hingga menjadi satu tubuh yang saling merasakan getaran luka dan riang kebahagiaan.
Baca Juga: Khutbah Jumat: Menolong Agama Allah
Maka, di hari yang agung ini, di bulan yang penuh kemuliaan ini, dan di atas mimbar persatuan ini, marilah kita renungkan bersama sebuah pesan besar dari langit, bahwa kejayaan umat hanya akan datang jika kita bersatu dalam jama’ah, dan kehinaan hanya akan menimpa jika kita tercerai-berai.
Selanjutnya, marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, dengan sebenar-benar takwa. Yakni menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, dalam keadaan sendiri maupun bersama-sama, dalam suka maupun duka.
Saudara-saudaraku seiman,
Hari ini, di tengah hiruk-pikuk dunia yang sarat fitnah, di saat umat Islam diuji dengan berbagai macam cobaan, terutama saudara-saudara kita di Palestina yang terus berjuang mempertahankan tanah suci dan Masjidil Aqsha dari genggaman penjajah, kita semua membutuhkan satu pegangan yang kokoh, yaitu hidup berjama’ah dan bersaudara karena Allah.
Baca Juga: Khutbah Jumat: Rizki Terbaik Berkah di Dunia, Bekal di Akhirat
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Kitab-Nya yang mulia:
وَاعْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللّٰهِ جَمِيْعًا وَّلَا تَفَرَّقُوْاۖ وَاذْكُرُوْا نِعْمَتَ اللّٰهِ عَلَيْكُمْ اِذْ كُنْتُمْ اَعْدَاۤءً فَاَلَّفَ بَيْنَ قُلُوْبِكُمْ فَاَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهٖٓ اِخْوَانًاۚ وَكُنْتُمْ عَلٰى شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ النَّارِ فَاَنْقَذَكُمْ مِّنْهَاۗ كَذٰلِكَ يُبَيِّنُ اللّٰهُ لَكُمْ اٰيٰتِهٖ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُوْنَ
“Dan berpeganglah kamu semuanya pada tali (agama) Allah seraya berjama’ah, dan janganlah kamu bercerai-berai. Dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliyah) bermusuh-musuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu, sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara. Dan kamu berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu mendapat petunjuk.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 103).
Di dalam Tafsir as-Sa’di dijelaskan, ayat ini mengandung anjuran Allah kepada hamba-hamba-Nya, kaum Mukminin agar menegakkan agama mereka dan berpegang teguh kepada tali itu, yaitu agama dan kitab-Nya, serta berjama’ah dengan berpedoman pada agama dan kitab-Nya, serta tidak saling bercerai berai, dan agar mereka selalu konsisten atas hal itu hingga mereka meninggal.
Ayat ini adalah pondasi kehidupan berjama’ah dalam Islam. Allah tidak mengatakan “berpeganglah pada tali-Ku” secara perorangan, masing-masing, sendiri-sendiri. Melainkan “berpeganglah kamu semuanya, seraya berjama’ah” dengan kata lain, secara kolektif, bersama-sama, dalam satu ikatan persaudaraan yang kokoh.
Baca Juga: Khutbah Jumat: Menjaga Komitmen Baiat dan Perjanjian
Tali Allah ini adalah Al-Qur’an dan sunnah Rasul-Nya, juga adalah Jama’ah Muslimin yang bersatu di atas kebenaran. Barangsiapa yang melepas tali ini, maka ia akan tersesat. Barangsiapa yang memegangnya dengan erat, maka ia akan selamat di dunia dan akhirat.
Perhatikan bagaimana Allah mengingatkan kita akan nikmat persatuan. Dahulu kita adalah musuh-musuhan, saling bunuh, saling bermusuhan karena kesukuan dan kebanggaan duniawi. Lalu Allah mempersatukan hati kita dengan Islam. Dan di situlah kita menjadi saudara, bukan karena darah, bukan karena harta, tetapi karena iman kepada Allah.
Dalam kaitan ini, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengingatkan kita:
مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ كَمَثَلِ الْجَسَدِ الْوَاحِدِ، إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى
“Perumpamaan orang-orang beriman dalam hal saling mencintai, saling mengasihi, dan saling menyayangi bagaikan satu tubuh. Apabila salah satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuh akan merasakan demam dan tidak bisa tidur.” (H.R. Muslim).
Baca Juga: Khutbah Jumat: Risalah Kemanusiaan dari Bumi Palestina
Lihatlah betapa indahnya gambaran yang diberikan Rasulullah ﷺ. Kita adalah satu tubuh. Ketika Palestina sakit, maka seluruh tubuh umat Islam harus merasakan demamnya. Ketika Al-Aqsha terluka, maka seluruh mata umat Islam harus menangis. Ketika Gaza dibombardir, maka seluruh tangan umat Islam harus bergerak membantu.
Namun, apa yang terjadi hari ini? Sebagian umat Islam justru sibuk dengan urusannya sendiri, urusan organisasinya sendiri, urusan negaranya sendiri. Sebagian lagi bahkan bekerjasama dan menjalin hubungan diplomatik dengan musuh Islam untuk menjatuhkan saudaranya sesama Muslim. Sebagian lain diam tak bergeming. Inilah yang menyebabkan kelemahan umat. Inilah yang menyebabkan Al-Aqsha dan Palestina terus dijajah.
Padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memperingatkan kita dengan keras:
وَلَا تَكُونُوا۟ كَٱلَّذِينَ تَفَرَّقُوا۟ وَٱخْتَلَفُوا۟ مِنۢ بَعْدِ مَا جَآءَهُمُ ٱلْبَيِّنَٰتُ ۚ وَأُو۟لَٰٓئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ
“Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat”. (QS Ali Imran [3]: 105).
Baca Juga: Khutbah Jumat: Kehidupan Dunia Tempat Menanam Kebaikan
Pada ayat lain, Allah mengingatkan kita:
وَمَا تَفَرَّقَ الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ اِلَّا مِنْۢ بَعْدِ مَا جَاۤءَتْهُمُ الْبَيِّنَةُۗ
“Tidaklah terpecah-belah orang-orang Ahlulkitab, melainkan setelah datang kepada mereka bukti yang nyata.” (QS Al-Bayyinah [98: 4).
Mereka yang diberi kitab sebelumnya, Yahudi dan Nasrani, justru terpecah belah setelah kebenaran datang kepada mereka. Mereka memiliki kitab, memiliki nabi, tetapi karena hawa nafsu dan kepentingan dunia, mereka berpecah menjadi puluhan sekte. Dan itulah kehinaan mereka.
Maka dari itulah, jangan sampai umat Islam jatuh dalam lubang yang sama. Kita telah memiliki Al-Qur’an yang sempurna. Kita telah memiliki Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sebagai teladan agung. Maka, mengapa masih berpecah? Mengapa masih saling menjatuhkan?
Baca Juga: Khutbah Jumat: Islam Menjaga Perdamaian
Marilah kita simak peringatan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dalam sabdanya:
الْجَمَاعَةُ رَحْمَةٌ وَالْفُرْقَةُ عَذَابٌ
“Jama’ah adalah rahmat, dan perpecahan adalah azab.” (H.R. Ahmad).
Saudara-saudaraku yang sama-sama mengharap ridha dan ampunan Allah,
Inilah kaidah agung yang harus kita pegang teguh. Jama’ah adalah rahmat. Ketika kita bersama, ada keberkahan, ada pertolongan, ada kekuatan. Namun perpecahan adalah azab. Ketika kita bercerai-berai, maka datanglah kehinaan, kelemahan, dan kekalahan.
Baca Juga: Khutbah Jumat: Mentadaburi Surat Al-Isra dalam Pembebasan Al-Aqsa
Lihatlah sejarah umat Islam. Ketika mereka bersatu di bawah kepemimpinan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan para khulafaur rasyidin, mereka menjadi kekuatan yang disegani dunia. Namun setelah perpecahan masuk, setelah munculnya perang saudara, fanatisme golongan, dan kepentingan pribadi atau kelompok, maka kehinaan pun datang silih berganti.
Sekarang, lihatlah keadaan kita. Umat Islam berjumlah lebih dari dua miliar. Kita memiliki kekayaan alam yang melimpah. Kita memiliki posisi strategis di dunia. Namun mengapa kita lemah? Mengapa Al-Aqsha masih dijajah? Mengapa Palestina masih tertindas?
Jawabannya ada pada firman Allah tentang musuh kita sendiri:
لَا يُقَٰتِلُونَكُمْ جَمِيعًا إِلَّا فِى قُرًى مُّحَصَّنَةٍ أَوْ مِن وَرَآءِ جُدُرٍۭ ۚ بَأْسُهُم بَيْنَهُمْ شَدِيدٌ ۚ تَحْسَبُهُمْ جَمِيعًا وَقُلُوبُهُمْ شَتَّىٰ ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لَّا يَعْقِلُونَ
“Mereka (Yahudi) tidak akan memerangi kamu (secara) bersama-sama, kecuali di negeri-negeri yang berbenteng atau di balik tembok. Permusuhan antar sesama mereka sangat hebat. Kamu mengira bahwa mereka itu bersatu, padahal hati mereka terpecah belah. Hal itu disebabkan mereka kaum yang tidak berakal.” (QS. Al-Hasyr [59]: 14).
Baca Juga: Khutbah Jumat: Melestarikan Alam Menyelamatkan Kehidupan
Allah menggambarkan musuh kita, Yahudi, sebagai kaum yang hatinya terpecah-belah meskipun secara lahir mereka bersatu. Tetapi renungkanlah, jangan samai hati kita terpecah dan lahiriah kita juga terpecah! Kita tidak seperti Yahudi yang minimal lahiriah mereka masih bersatu melawan kita. Kita malah lahiriah dan batiniah tercerai-berai. Maka pantaslah kita dikalahkan.
Hadirin sidang Jumat yang dimuliakan Allah,
Saat ini kita semua ingin melihat Al-Aqsa terbebas. Kita semua berdoa agar Palestina merdeka. Kita semua merindukan momen ketika Masjidil Aqsa kembali menjadi milik umat Islam yang menjalankan syariat Allah.
Namun pertanyaannya, sudahkah kita bersatu untuk itu? Pembebasan Al-Aqsa tidak akan pernah terwujud selama umat Islam masih terpecah belah. Sejarah membuktikan bahwa penaklukan kembali Baitul Maqdis oleh Shalahuddin Al-Ayyubi terjadi setelah umat Islam, terutama Mesir dan Syam, bersatu di bawah satu komando. Dan ketika mereka bersatu, pertolongan Allah datang.
Baca Juga: Khutbah Jumat: Jangan Pernah Berhenti Menyuarakan Al-Aqsa
Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum jika kaum itu sendiri tidak mengubah apa yang ada dalam diri mereka. Dan salah satu perubahan terbesar yang harus kita lakukan adalah meninggalkan perpecahan menuju persatuan.
Perpecahan sering dimulai dari hal-hal sepele. Perbedaan pendapat dalam fiqih. Perbedaan pandangan politik. Perbedaan afiliasi organisasi. Semua itu kemudian dibesar-besarkan hingga menjadi permusuhan.
Padahal, kita semua adalah saudara. Perbedaan pendapat kiranya dapat dikelola dengan bijak. Namun jika dikelola dengan kebencian, maka menjadi azab.
Ingatlah, musuh kita, Yahudi dan sekutu-sekutunya, tidak peduli kita dari organisasi mana, dari mazhab mana, atau dari partai mana. Bagi mereka, kita semua adalah Muslim yang harus dilenyapkan. Maka, mengapa kita harus memudahkan pekerjaan mereka dengan saling menjatuhkan?
Bayangkan jika dua miliar umat Islam bersatu. Kekuatan ekonomi kita akan menjadi kekuatan terbesar di dunia. Kekuatan politik kita akan menjadi penentu arah global. Kekuatan moral kita akan menjadi rujukan peradaban.
Tapi persatuan itu tidak akan terjadi secara otomatis. Ia harus diupayakan. Ia harus dibangun. Ia harus dijaga dengan pengorbanan: mengalahkan ego, mengesampingkan kepentingan pribadi, dan mendahulukan kepentingan umat.
Untuk itu, jamaah kaum Muslimin yang dirahmati Allah,
Marilah kita tinggalkan sikap saling mencela. Marilah kita hentikan kebiasaan saling menuduh. Marilah kita bangun kembali jembatan persaudaraan. Karena sesungguhnya, kita semua bersaudara karena Allah.
Allah berfirman:
اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ اِخْوَةٌ فَاَصْلِحُوْا بَيْنَ اَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَࣖ
“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara. Karena itu, damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat.” (QS. Al-Hujurat [49]: 10).
Terlebih dalam perjuangan global, jika kita ingin Al-Aqsa terbebas, mulailah dengan membebaskan hati kita dari kebencian terhadap sesama Muslim. Jika kita ingin Palestina merdeka, mulailah dengan memerdekakan pikiran kita dari propaganda perpecahan. Jika kita ingin dunia Islam bangkit, mulailah dengan bangkit bersama dalam satu Jama’ah Muslimin. Jama’ah adalah rahmat. Perpecahan adalah azab. Maka pilihlah rahmat, dan tinggalkan azab.
Semoga Allah mempersatukan hati kita. Semoga Allah menolong saudara-saudara kita di Palestina. Semoga Allah segera membebaskan Masjidil Aqsa dari genggaman penjajah. Dan semoga kita semua termasuk hamba-hamba-Nya yang bersatu di atas kebenaran. Aamiin Yaa Robbal ‘Aalamiin.
أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khutbah Kedua
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا أَمَرَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلَهَ اِلَّا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ إِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَرَ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ سَيِّدُ الْخَلَائِقِ وَالْبَشَرِ.
اَللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْمَحْشَرِ.
أَمَّا بَعْدُ. فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.
فَقَالَ اللهُ تَعَالَى: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يٰأَيُّها الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ
اَللّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ، اَلْأَحْياءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ
اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ حَالَ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ، وَاجْمَعْ كَلِمَتَهُمْ عَلَى الْحَقِّ، وَانْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِي فِلَسْطِيْنَ
وَاحْفَظِ الْمُسْلِمِيْنَ فِي كُلِّ مَكَانٍ، وَوَحِّدْ صُفُوْفَهُمْ، وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِهِمْ، وَانْصُرْهُمْ عَلَى أَعْدَائِهِمْ
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً ۚ إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وَاَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ
عِبَادَ اللهِ، اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاۤئِ ذِى الْقُرْبٰى وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاشْكُرُوْا عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُاللهِ أَكْبَرُ
Mi’raj News Agency (MINA)
















Mina Indonesia
Mina Arabic