DI TENGAH gemerlap dunia yang kian memikat, tanpa sadar manusia sedang bergerak menjauh dari hal-hal yang paling hakiki, sebuah realitas yang telah lama diperingatkan dalam sabda Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam:
سَيَأْتِي عَلَى أُمَّتِي زَمَانٌ يُحِبُّونَ الْخَمْسَ وَيَنْسَوْنَ الْخَمْسَ يُحِبُّونَ الدُّنْيَا وَيَنْسَوْنَ الْآخِرَةَ، وَيُحِبُّونَ الْحَيَاةَ وَيَنْسَوْنَ الْمَوْتَ وَيُحِبُّونَ الْقُصُورَ وَيَنْسَوْنَ الْقُبُورَ وَيُحِبُّونَ الْمَالَ وَيَنْسَوْنَ الْحِسَابَ وَيُحِبُّونَ الْخَلْقَ وَيَنْسَوْنَ الْخَالِقَ
“Akan datang suatu masa, dimana umatku lebih mencintai kepada lima perkara dan melupakan lima perkara lainnya, yaitu lebih mencintai duniawi dan melupakan akhiratnya. Lebih cinta hidup dan melupakan mati. Mencintai gedung-gedung bermahligai dan lupa kubur. Mencintai harta benda dan melupakan hisab dan mereka lebih mencintai kepada sesama makhluk dan melupakan Sang Khaliq, Allah Subhanahu Wa Ta’ala.”
Hadis yang dinukil oleh Imam An-Nawawi di dalam kitab syarahnya “Nashoihul Ibad” ini, jika dibaca dalam lanskap kekinian, tidak lagi sekadar terasa sebagai nasihat klasik, melainkan seperti potret sosial yang hidup di depan mata.
Baca Juga: Pejuang Media: Jihad dengan Suara dan Tulisan di Era Kompetisi Global
Ia bukan hanya menggambarkan “akan datang suatu masa”, tetapi seolah sedang berbicara tentang masa yang sedang kita jalani hari ini, masa ketika orientasi hidup manusia semakin bergeser, halus namun pasti.
Dunia sebagai Pusat Makna
Dalam realitas modern, dunia tidak lagi sekadar alat pemenuh kebutuhan, tetapi telah berubah menjadi identitas. Seseorang tidak hanya memiliki sesuatu, tetapi didefinisikan oleh apa yang ia miliki.
Rumah, kendaraan, pekerjaan, hingga gaya hidup bukan lagi sekadar fasilitas, melainkan simbol eksistensi.
Baca Juga: Konser Andrea Bocelli antara HAM dan Pembelaan terhadap Palestina
Fenomena ini diperkuat oleh ekosistem digital. Media sosial menciptakan ruang di mana kehidupan dipamerkan, dibandingkan, dan dinilai. Ukuran sukses menjadi visual dan instan.
Dalam situasi ini, akhirat semakin terdorong ke ruang privat, dibicarakan sesekali, tetapi jarang menjadi fondasi keputusan hidup.
Di titik inilah hadis tersebut menemukan relevansinya: cinta kepada dunia bukan lagi sekadar kecenderungan, tetapi telah menjadi sistem nilai.
Kematian yang Disingkirkan dari Kesadaran Publik
Baca Juga: Harapan Perdamaian untuk Arab Saudi dan Houthi
Salah satu ciri masyarakat modern adalah kecenderungannya “menjinakkan” kematian. Rumah sakit, teknologi medis, hingga industri kecantikan bekerja untuk memperpanjang, memperindah, dan secara psikologis, menunda kesadaran akan kefanaan.
Kematian jarang dibicarakan secara terbuka, kecuali ketika menjadi peristiwa besar. Bahkan dalam banyak kasus, ia disederhanakan menjadi angka statistik. Padahal dalam tradisi Islam, mengingat mati bukan untuk menakut-nakuti, tetapi untuk menjaga kejernihan arah hidup.
Ketika kematian hilang dari kesadaran, manusia cenderung hidup seolah tanpa batas waktu. Di sinilah muncul gaya hidup serba instan, keputusan jangka pendek, dan minimnya refleksi mendalam tentang makna hidup.
Budaya Pamer
Baca Juga: Masjid Al-Aqsa, Kiblat Pertama, Arah Sujud yang Mengikat Hati Orang Beriman
Hadis menyebut kecintaan pada “istana” yang dalam konteks hari ini bisa dimaknai sebagai obsesi terhadap simbol kemewahan. Namun kini, kemewahan tidak selalu berbentuk fisik besar; ia bisa hadir dalam detail kecil yang dikurasi dengan cermat di ruang digital.
Budaya show off bukan semata soal kesombongan, tetapi juga soal kebutuhan akan pengakuan. Manusia modern hidup dalam tekanan untuk “terlihat berhasil”. Akibatnya, batas antara kebutuhan dan keinginan menjadi kabur.
Yang menarik, fenomena ini seringkali melahirkan kelelahan batin. Di balik tampilan yang gemerlap, banyak orang justru mengalami kecemasan, merasa tidak cukup, dan terus membandingkan diri. Ini menjadi ironi: ketika dunia dicintai berlebihan, justru ketenangan semakin sulit ditemukan.
Harta dalam Sistem yang Kompetitif
Baca Juga: Menyongsong Bulan Solidaritas Palestina
Jika dahulu harta diuji pada level individu, kini ia diuji dalam sistem yang jauh lebih kompleks. Ekonomi modern mendorong kompetisi tanpa henti: produktivitas, efisiensi, dan pertumbuhan menjadi mantra utama.
Dalam situasi ini, kesadaran tentang hisab seringkali tersisih oleh tekanan pragmatis: target, keuntungan, dan kelangsungan usaha.
Praktik-praktik yang abu-abu secara moral menjadi mudah dinormalisasi karena dianggap “bagian dari sistem”.
Padahal konsep hisab justru hadir untuk menjaga etika di tengah dinamika tersebut. Ia mengingatkan bahwa di balik setiap transaksi, ada dimensi moral yang tidak bisa dinegosiasikan.
Baca Juga: Menjadi Jurnalis Terbaik: Ketika Pena Menjadi Amanah dan Kebenaran Menjadi Jalan
Relasi Sosial yang Semakin Dangkal
Bagian paling subtil dari hadis ini tampak jelas dalam relasi sosial masa kini. Koneksi semakin luas, tetapi kedalaman relasi seringkali menurun. Seseorang bisa memiliki ribuan “teman” di dunia digital, tetapi tetap merasa kesepian.
Ketika hubungan tidak lagi berakar pada nilai spiritual, ia mudah berubah menjadi transaksional. Relasi dibangun atas dasar manfaat, bukan makna.
Bahkan empati pun bisa tereduksi menjadi sekadar respons cepat, like, komentar, atau reaksi singkat.
Baca Juga: Rapuhnya Kekuatan Selain Allah
Sebaliknya, ketika cinta kepada sesama dilandasi kesadaran kepada Allah, relasi menjadi lebih tahan uji. Ia tidak bergantung pada kepentingan sesaat, tetapi pada nilai yang lebih dalam.
Hadis sebagai Kritik Peradaban, Bukan Sekadar Individu
Yang menarik, jika dibaca lebih jauh, hadis ini tidak hanya mengkritik individu, tetapi juga bisa dibaca sebagai kritik terhadap arah peradaban.
Ia menggambarkan bagaimana sebuah masyarakat bisa kehilangan keseimbangan secara kolektif.
Baca Juga: Hakikat Memberi: Refleksi Diri dalam Setiap Kebaikan
Modernitas membawa banyak kemajuan, teknologi, kesehatan, pendidikan, namun juga membawa tantangan besar dalam menjaga dimensi spiritual.
Ketika kemajuan tidak diimbangi dengan kesadaran ruhani, ia berpotensi menciptakan kekosongan makna.
Di sinilah hadis tersebut menjadi sangat kontekstual: ia mengingatkan bahwa krisis terbesar manusia bukan pada kekurangan materi, tetapi pada kehilangan orientasi.
Menemukan Keseimbangan di Tengah Arus Zaman
Baca Juga: 7 Amalan Ringan di Usia Senja, Menjemput Berkah Meraih Husnul Khatimah
Membaca hadis ini dalam konteks hari ini bukan berarti menolak dunia modern. Justru sebaliknya, ia mengajak untuk hadir secara utuh di dalamnya, tanpa kehilangan arah.
Keseimbangan yang ditawarkan bukan antara “dunia atau akhirat”, tetapi bagaimana menjadikan dunia sebagai jalan menuju akhirat. Bekerja tetap penting, memiliki harta tetap wajar, membangun kehidupan yang layak tetap dianjurkan.
Namun semuanya perlu ditautkan pada kesadaran yang lebih besar: bahwa hidup ini memiliki tujuan yang melampaui apa yang terlihat.
Pada akhirnya, hadis ini seperti kompas. Ia tidak melarang manusia berjalan jauh, tetapi memastikan arah perjalanan tetap benar.
Baca Juga: Menikah In This Economy? Rezeki Dijamin Allah, Bukan Slip Gaji
Di tengah dunia yang semakin bising dan cepat, pesan ini justru menjadi semakin relevan, untuk menjaga hati agar tidak terseret arus, dan menjaga cinta agar tetap tertuju pada yang abadi. []
Mi’raj News Agency (MINA)
















Mina Indonesia
Mina Arabic