Oleh Imaam Yakhsyallah Mansur
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
لَا يُكَلِّفُ اللّٰهُ نَفْسًا اِلَّا وُسْعَهَاۗ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْۗ …. (البقرة [٢]: ٢٨٦)
Baca Juga: Boleh Bersedih, Tapi Jangan Larut dalam Kesedihan
“Allah tidak membebani seseorang, kecuali menurut kesanggupannya. Baginya ada sesuatu (pahala) dari (kebajikan) yang diusahakannya dan terhadapnya ada (pula) sesuatu (siksa) atas (kejahatan) yang diperbuatnya. …” (QS Al-Baqarah [2]: 286)
Ayat di atas menjadi fondasi penting dalam ajaran Islam yang menegaskan bahwa tidak ada ujian yang diberikan, kecuali sesuai kemampuan. Allah Ta’ala menakdirkan setiap peristiwa berdasarkan dengan ilmu, keadilan, dan kasih sayang-Nya.
Imam Ath-Thabari Rahimahullah menjelaskan kata “وُسْعَهَا” berarti batas kemampuan yang benar-benar sanggup dipikul oleh seseorang. Setiap kewajiban syariat maupun ujian kehidupan telah diukur secara sempurna sesuai kapasitas masing-masing hamba.
Makna ayat tersebut juga menunjukkan, bahwa syariat Islam dibangun di atas prinsip kemudahan (at-taysīr), bukan kesulitan. Kesalahan yang terjadi karena lupa, keliru, atau berada di luar kemampuan manusia mendapatkan keringanan, sedangkan setiap amal saleh, sekecil apa pun, akan tetap mendapat ganjaran.
Baca Juga: Komunitas Sebagai Fondasi Umat dan Benteng Generasi
Ketika seseorang telah mengerahkan seluruh kemampuan untuk menjalankan amanah dan kewajibannya, kemudian masih menghadapi keterbatasan yang berada di luar kuasanya, maka ia tidak dibebani dosa atas sesuatu yang memang tidak sanggup ia lakukan.
Allah tidak hanya menilai hasil akhir, tetapi juga melihat keikhlasan niat, kesungguhan usaha, dan ketakwaan yang melandasi setiap amal. Karena itu, seorang mukmin dituntut untuk memberikan ikhtiar terbaik sesuai kemampuannya, kemudian bertawakal dan ridha terhadap keputusan Allah Ta’ala.
Dalam konteks perjuangan rakyat Palestina, ayat ini menghadirkan pelajaran yang sangat mendalam. Selama puluhan tahun mereka menghadapi ujian yang luar biasa berat berupa: pendudukan, peperangan, kehilangan anggota keluarga, serta kehancuran tempat tinggal dan fasilitas kehidupan.
Semua itu merupakan beban yang tidak ringan. Namun, sebagai orang beriman, mereka tetap berikhtiar semaksimal mungkin sesuai kemampuan yang dimiliki, sambil menyadari bahwa hasil akhir berada dalam kehendak Allah SWT.
Baca Juga: Kejahatan Yahudi Membuat Hatinya Keras Membatu
Demikian pula setiap pihak yang terlibat dalam upaya perjuangan Palestina. Apapun bentuk ikhtiar yang ditempuh, baik melalui perjuangan kemanusiaan, diplomasi, rekonsiliasi dan lainnya adalah untuk kepentingan bersama, yakni meraih kemerdekaan, melepaskan belenggu penjajahan Zionis Israel, serta terbebasnya Masjidil Aqsa dari cengkerman mereka.
Kemenangan Sejati dalam Perjuangan
Tidak ada seorang pun warga Gaza yang menginginkan perang. Di balik setiap dentuman bom yang mengguncang, selalu ada seorang ibu yang memeluk anaknya dengan penuh kecemasan, seorang ayah yang menatap puing-puing rumahnya, dan anak-anak yang tumbuh tanpa harapan masa depan.
Bagi mereka, perang bukan sekadar berita utama di layar televisi atau angka statistik dalam laporan lembaga internasional. Perang adalah kenyataan pahit dan pilu yang harus mereka hadapi dalam kehidupan nyata setiap hari.
Baca Juga: Ustaz Amri Fatmi: Hidup Mewah Berdampak Luas pada Kerusakan Alam
Di tengah penderitaan yang berkepanjangan, bagi sebagian besar warga sipil, kebutuhan yang paling mendesak bukanlah perdebatan mengenai siapa yang memegang kendali pemerintahan, melainkan kapan kekerasan ini berhenti, bantuan kemanusiaan dapat masuk, dan kehidupan dapat kembali berjalan normal.
Dalam konteks itulah, dinamika politik terbaru di Gaza patut dicermati. Gerakan pejuang Palestina Hamas mengumumkan menyerahkan pengelolaan administrasi sipil kepada Komite Nasional untuk Administrasi Gaza (National Committee for Gaza Administration/NCAG).
Terlepas dari berbagai pandangan yang berkembang mengenai efektivitas lembaga tersebut, langkah itu memunculkan sebuah pertanyaan mendasar: apakah melepaskan pemerintahan merupakan bentuk kekalahan, ataukan sebagai strategi untuk membuka ruang bagi pemulihan kehidupan bersama masyarakat Gaza?
Pengorbanan Tidak Selalu Berupa Darah
Baca Juga: Kehidupan Berbangsa dalam Perspektif Al-Qur’an
Sejarah mengajarkan bahwa ada bentuk pengorbanan lain yang tidak kalah berat dibanding gugur di medan perang, yaitu melepaskan sesuatu yang menjadi idealismenya, demi kepentingan dan harapan yang lebih besar.
Bagi seorang pejuang, kekuasaan bukanlah menjadi tujuan, melainkan sarana agar mampu memberi manfaat kepada sebanyak-banyaknya masyarakat. Pejuang sejati, bukanlah orang rela mengorbankan rakyat demi mendapat atau mempertahankan kekuasaan. Namun, mereka yang menempatkan keselamatan masyarakat di atas kepentingan pribadi dan kelompoknya.
Dalam syariat Islam, kepemimpinan bukanlah hal yang diperebutkan, melainkan amanah yang kelak dipertanggungjawabkan di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Nabi Muhammad ﷺ bersabda:
كُلُّكُمْ رَاعٍ، وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ،… (رواه البخارى)
Baca Juga: Perang Gaza dan Perubahan Persepsi Publik Amerika terhadap Palestina
“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Al-Bukhari).
Hadist ini menegaskan bahwa ukuran keberhasilan seorang pemimpin tidak terletak pada lamanya ia berkuasa, tetapi pada sejauh mana ia menjaga keselamatan dan kesejahteraan orang-orang yang berada di bawah tanggung jawabnya.
Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulum al-Din menjelaskan, ketika kekuasaan berubah menjadi tujuan yang dipertahankan, maka amanah itu kehilangan ruhnya. Legitimasi moral seorang pemimpin lahir dari keberpihakannya kepada kemaslahatan umum, bukan dari kemampuannya mempertahankan jabatan.
Sejak 2006 hingga saat ini, Gaza berada dalam babak sejarah yang penuh ujian. Blokade yang berkepanjangan, keterbatasan akses terhadap barang-barang kebutuhan pokok, berulangnya serangan bersenjata, serta kerusakan infrastruktur menjadi ujiang sangat berat bagi jutaan penduduknya.
Baca Juga: Berubah ke Arah yang Lebih Baik
Di tengah situasi tersebut, masyarakat sipil Palestina menghadapi tantangan yang tidak mudah: bagaimana mempertahankan ketahanan sosial, memenuhi kebutuhan dasar warga, sekaligus merespons dinamika keamanan yang terus berubah.
Dalam kondisi seperti itulah, setiap keputusan politik menjadi sangat berat. Tidak ada pilihan yang mudah. Tidak ada jalan yang bebas dari konsekuensi.
Dalam kehidupan seorang pejuang, ada saatnya keberanian diukur dari kemampuannya bertahan di garis depan. Namun ada pula saat ketika keberanian justru diuji oleh kesediaannya mengambil keputusan yang tidak populer demi menyelamatkan masa depan masyarakatnya.
Ibrah dari Perjanjian Hudaibiyah
Baca Juga: Al-Aqsa Cahaya Keberkahan yang Menyinari Alam Semesta Sepanjang Masa
Peristiwa Perjanjian Hudaibiyah menjadi salah satu contohnya. Pada tahun keenam Hijriah, Rasulullah ﷺ bersama sekitar 1.400 sahabat berangkat menuju Makkah untuk menunaikan umrah. Namun kaum Quraisy menghalangi mereka memasuki kota suci.
Perundingan pun berlangsung. Hasilnya adalah sebuah perjanjian yang tampak berat untuk diterima. Di antaranya, kaum Muslimin harus menunda umrah hingga tahun berikutnya. Bahkan beberapa klausul dinilai menguntungkan pihak Kafir Quraisy.
Umar bin Khattab Radhiallahu anhu termasuk sahabat yang bertanya kepada Rasulullah ﷺ karena sulit memahami hikmah di balik perjanjian yang telah disepakati itu.
Perjanjiah Hudaibiyah yang awalnya terkesan merugikan kaum Muslimin itu ternyata menyimpan hikmah luar biasa. Dalam dua tahun setelah Hudaibiyah, jumlah orang yang memeluk Islam meningkat pesat, puncaknya, Makkah dapat dibebaskan tanpa pertumpahan darah yang berarti.
Baca Juga: Keutamaan Al-Qur’an: Dari Musabaqah untuk Diamalkan dalam Kehidupan
Ternyata, kemenangan yang dimaksud bukanlah kemenangan militer, melainkan kemenangan strategis yang menghadirkan stabilitas sosial. Kondisi inilah yang kemudian membuka ruang bagi dakwah untuk berkembang serta memperluas hubungan dengan berbagai pihak.
Perjanjian Hudaibiyah disebut oleh Allah Ta’ala sebagai “kemenangan yang nyata” (QS Al-Fath [48]: 1) karena manfaat strategisnya jauh melampaui apa yang tampak di permukaan. Ibnul Qayyim dalam Zad al-Ma’ad menguraikan bahwa keputusan Rasulullah ﷺ menunjukkan kebijaksanaan seorang pemimpin yang mampu melihat maslahat jangka panjang, meskipun pada awalnya sulit dipahami oleh sebagian sahabatnya.
Tentu, konteks Hudaibiyah berbeda dengan dinamika Palestina saat ini. Namun prinsip yang dapat dipetik tetap relevan. Seorang pemimpin terkadang harus mengambil keputusan yang berat, apabila ia meyakini langkah tersebut dapat mengurangi penderitaan dan membuka peluang bagi kebaikan yang lebih besar.
Kepentingan Bersama Menjadi Prioritas
Baca Juga: Hukuman Potong Tangan: Alternatif Mengatasi Kejahatan Korupsi
Edward Said dalam The Question of Palestine mengingatkan bahwa penyelesaian konflik tidak cukup hanya dengan kekuatan militer. Perdamaian hanya dapat bertahan apabila dibangun di atas keadilan, penghormatan terhadap martabat manusia, dan pengakuan terhadap hak-hak rakyat Palestina.
Di sinilah makna pengorbanan memperoleh dimensi yang lebih luas. Pengorbanan bukan hanya tentang keberanian menghadapi tentara musuh di medan laga, tetapi juga tentang kesediaan mendahulukan kepentingan masyarakat ketika pilihan-pilihan yang tersedia sama-sama sulit.
Dalam konteks Gaza, jutaan warga sipil telah menanggung dampak yang sangat besar dari konflik yang berkepanjangan. Mereka membutuhkan keamanan, layanan kesehatan, pendidikan, pekerjaan, dan kesempatan untuk membangun kembali kehidupan mereka.
Rekonstruksi bangunan memang penting, tetapi rekonstruksi kepercayaan antarsesama warga Palestina jauh lebih penting. Persatuan antarfaksi, tata kelola pemerintahan yang terpercaya, serta komitmen terhadap kepentingan rakyat diharapkan akan menjadi fondasi bagi masa depan yang lebih stabil.
Jalan menuju kehidupan yang lebih damai tidak hanya membutuhkan dukungan internasional atau pembangunan fisik, tetapi juga kesediaan seluruh elemen bangsa untuk menempatkan kepentingan rakyat di atas kepentingan politik masing-masing.
Apabila semangat itu dapat diwujudkan, maka pengorbanan yang telah dilakukan oleh begitu banyak keluarga Palestina selama puluhan tahun tidak akan sia-sia. Dari puing-puing yang tersisa, harapan baru akan tumbuh. Harapan akan masyarakat yang lebih bersatu, lebih kuat, dan lebih siap menyongsong masa depan dengan martabat.
Generasi mendatang akan mengingat siapa yang tetap menempatkan kepentingan dan keselamatan bersama di atas segala kepentingan kelompok. Pengorbanan yang lahir dari keikhlasan akan hidup jauh lebih lama daripada usia sebuah pemerintahan yang terbatas.
Kemenangan yang paling agung bukanlah ketika seseorang berhasil mempertahankan kekuasaan, melainkan ketika ia berhasil mempertahankan harapan. Harapan itulah yang akan terus menghidupkan perjuangan sebuah bangsa hingga keadilan benar-benar menemukan jalannya.
Pemikir sekaligus Presiden Bosnia, Alija Izetbegović pernah menulis bahwa peradaban tidak dibangun hanya oleh kemenangan-kemenangan militer, tetapi oleh kemampuan mempertahankan moralitas bangsa dan harapan di tengah masyarakat.
Bagi rakyat Palestina, perjuangan akan terus berlanjut sampai mereka meraih kemerdekaan dan Masjidil Aqsa kembali ke pangkuan umat Islam. Sementara umat Islam di mana pun berada wajib mendukung perjuangan ini sebagai wujud ukhuwah Islamiyah dan pembelaan terhadap kiblat pertama mereka, masjid termulia setelah Masjidil Haram dan Masjid Nabawi.
وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ
Mi’raj News Agency (MINA)
















Mina Indonesia
Mina Arabic