Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Khutbah Jumat: Menjaga Keseimbangan dalam Kehidupan

Redaksi Editor : Widi Kusnadi - Jumat, 12 Desember 2025 - 05:46 WIB

Jumat, 12 Desember 2025 - 05:46 WIB

50 Views ㅤ

alam yang tidak seimbang mengakibatkan bencana (Foto: ig)

Oleh Imaam Yakhsyallah Mansur

Khutbah Jumat pada kesempatan kali ini berjudul: Menjaga Keseimbangan dalam Kehidupan.

Allah ﷻ telah mengatur keseimbangan alam dengan tepat dan akurat. Pepohonan menyerap karbon, laut menstabilkan iklim, tanah menumbuhkan kehidupan, dan udara memberikan napas bagi seluruh makhluk.

Ketika manusia merusak satu bagian saja, misalnya membabat hutan dan melakukan penambangan secara liar, maka kualitas udara menjadi rusak, iklim akan berubah. Akhirnya terjadi hujan ekstrem dan mengakibatkan banjir dan longsor. Satu ketidakseimbangan menimbulkan efek domino bagi aspek-aspek lainnya.

Baca Juga: Khutbah Jumat: Merajut Ishlah Mewujudkan Ukhuwah Islamiyah

Begitu pula dalam kehidupan sosial. Jika sebagian orang berlaku curang dalam bisnis, menipu dan merugikan orang lain, maka hilanglah kepercayaan. Akibatnya, ekonomi masyarakat menjadi tidak stabil. Kerusakan moral selalu diikuti kerusakan sosial dan ekonomi. Walhasil, kondisi keamanan dan ketertiban dalam masyarakat terganggu.

Khutbah Jumat selengkapnya silakan baca berikut:

 بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Khutbah ke-1:

Baca Juga: Khutbah Jumat: Menolong Agama Allah

إنَّ الـحَمْدَ لِلّٰهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللّٰهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَّ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه، اللّٰهُمَّ صَلِّ و سَلِّمْ وَبارِكْ عَلَى سَيِّدِنا مُحَمّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَأصْحابِهِ وَالتَّابِعينَ بِإحْسانِ إلَى يَوْمِ الْقِيَامَة، مَاشَاءَ اللَّهُ كَانَ، وَمَالَمْ يَشَأْ لَمْ يَكُنْ، لاَحَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللّٰهِ العَلِيِّ الْعَظِيْمِ، أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أيُّهَا الإِخْوَة أوْصُيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنْ، قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِي اْلقُرْانِ اْلكَرِيمْ : أَعُوذُ بِاللَّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ.  يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ، وَقَالَ الَنَّبِيُ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ .فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللّٰهِ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ، وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ، وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ

Segala puji bagi Allah ﷻ, Tuhan Yang mengatur kehidupan ini dengan keseimbangan, Yang mengatur bergantinya siang dan malam, dan yang menurunkan setiap nikmat serta ujian dengan penuh perhitungan.

Shalawat dan salam senantiasa tercurah dan terlimpah kepada Nabi Muhammad ﷺ, sosok teladan yang hidupnya memancarkan ketenangan dan keindahan. Beliau mengajarkan kepada kita bahwa kebahagiaan terletak pada kesederhanaan, dan keberkahan terletak pada keikhlasan dalam setiap amal.

Marilah kita terus meningkatkan iman dan takwa, sebab takwa adalah penuntun dalam kegelapan, penegak jiwa dalam ujian, dan penjaga hati dari segala keserakahan, ketamakan dan kedzaliman.

Baca Juga: Khutbah Jumat: Rizki Terbaik Berkah di Dunia, Bekal di Akhirat

Ma’asyiral Muslimin, hafidzakumullah

Pada kesempatan khutbah ini, marilah kita merenungkan firman Allah  dalam Al-Qur’an Surah Ar-Rahman [55] ayat 7-9. Allah  berfirman:

وَالسَّمَاۤءَ رَفَعَهَا وَوَضَعَ الْمِيْزَانَۙ ۝٧ اَلَّا تَطْغَوْا فِى الْمِيْزَانِ ۝٨ وَاَقِيْمُوا الْوَزْنَ بِالْقِسْطِ وَلَا تُخْسِرُوا الْمِيْزَانَ ۝٩ (الرحمن [٥٥]: ٧ــ٩)

“Langit telah Dia tinggikan dan Dia telah menciptakan timbangan (keadilan dan keseimbangan) [7] Agar kamu tidak melampaui batas dalam timbangan itu. [8] Tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi timbangan [keseimbangan] itu. [9]”

Baca Juga: Khutbah Jumat: Menjaga Komitmen Baiat dan Perjanjian

Dalam tafsir Ibnu Katsir, Ibn ‘Abbas Radhiallahu anhu menjelaskan ayat di atas,, bahwa Allah ﷻ meninggikan langit dan menjadikan sistem keseimbangan dalam seluruh kehidupan makhluk-makhluk-Nya.

Al-Mizan adalah aturan, ketetapan, dan hukum Allah ﷻ yang menjaga harmoni bagi setiap ciptaan-Nya. Tidak ada satu pun makhluk yang diciptakan tanpa ukuran, takaran, dan batas-batas yang telah ditetapkan. Semua berjalan dengan keteraturan. Hal itu menandakan bahwa ciptaan-Nya dirancang dengan kesempurnaan.

Sementara kalimatوَلَا تُخْسِرُوا الْمِيْزَانَ  (janganlah kamu mengurangi timbangan [keseimbangan] itu) berarti jangan merusak sistem keseimbangan yang telah Allah ﷻ tetapkan, baik dalam aspek pribadi, sosial, maupun dalam ekosistem kehidupan dalam alam semesta.

Ketika manusia melakukan kemaksiatan dan kedzaliman, sebenarnya mereka sedang merusak keseimbangan dalam kehidupan. Dampak buruk dari hal itu akan dirasakan oleh manusia sendiri dan makhluk-makhluk di sekitarnya. Maka tugas umat Islam menjegah kemaksiatan dan kedzaliman itu untuk mencegah kerusakan dan kehancuran.

Baca Juga: Khutbah Jumat: Risalah Kemanusiaan dari Bumi Palestina

Dengan demikian, menjaga keseimbangan kehidupan adalah amanah yang melekat pada manusia sebagai khalifah di muka bumi.

Ma’asyiral Muslimin, hafidzakumullah

Ketika manusia mengabaikan prinsip keseimbangan (mizan), terjadilah kerusakan dan bencana. Eksploitasi alam tanpa kendali, pembabatan hutan secara liar dengan menabrak aturan, pencemaran tanah, air dan udara, serta ketamakan manusia yang mengabaikan etika, semua itu merusak tatanan keseimbangan dalam kehidupan.

Akibatnya terjadi banjir bandang, kekeringan, tanah longsor, suhu ekstrem, krisis pangan, hingga wabah penyakit melanda. Bencana itu bukan semata-mata fenomena alam. Hal itu adalah respon alam terhadap rusaknya keseimbangan yang dilakukan oleh tangan-tangan manusia.

Baca Juga: Khutbah Jumat: Kehidupan Dunia Tempat Menanam Kebaikan

Musibah yang terjadi akhir-akhir ini di negeri kita hendaknya menjadi momen muhasabah, memperbaiki diri, menata ulang hubungan dengan Allah ﷻ, dengan sesama manusia, serta menjaga ekosistem yang telah Allah ﷻ titipkan kepada kita.

Sebab setiap kejadian yang mengguncang bumi sejatinya mengingatkan kita bahwa ada amanah yang terabaikan, ada batas-batas yang dilampaui, dan ada ketentuan Allah yang tidak dijaga keseimbangannya.

Maka sudah saatnya kita kembali kepada sikap hidup yang lebih bijak, menjauhi perilaku dzalim dan merusak, serta mendekatkan diri kepada Allah ﷻ dengan ketaatan, saling menguatkan dalam kebaikan, dan berperan aktif memulihkan keseimbangan alam.

Dengan begitu, terjadinya bencana bukan hanya menjadi peristiwa yang ditangisi, tetapi menjadi titik balik yang menumbuhkan perubahan dan kedewasaan spiritual dalam diri. Rasulullah Muhammad ﷺ mengingatkan:

Baca Juga: Khutbah Jumat: Islam Menjaga Perdamaian  

إِنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضِرَةٌ، وَإِنَّ اللَّهَ مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيهَا فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُونَ (روام مسلم)

“Sesungguhnya dunia itu manis dan hijau. Dan sungguh Allah menjadikan kalian sebagai khalifah (pengelola) di dalamnya, lalu Allah akan melihat bagaimana kalian beramal.” (HR Muslim)
Ma’asyiral Muslimin, hafidzakumullah

Keseimbangan tidak hanya dalam aspek fisik saja, tetapi juga meliputi aspek moral, sosial dan spiritual. Jika satu bagian terganggu, maka bagian lain akan terdampak.

Ketika manusia serakah, hilanglah keseimbangan ekonomi. Ketika manusia lalai ibadah, akan terganggu jiwanya. Ketika manusia mengeksploitasi alam tanpa aturan, maka rusaklah keseimbangan alam.

Baca Juga: Khutbah Jumat: Mentadaburi Surat Al-Isra dalam Pembebasan Al-Aqsa

Allah ﷻ telah mengatur keseimbangan alam dengan tepat dan akurat. Pepohonan menyerap karbon, laut menstabilkan iklim, tanah menumbuhkan kehidupan, dan udara memberikan napas bagi seluruh makhluk.

Ketika manusia merusak satu bagian saja, misalnya membabat hutan dan melakukan penambangan secara liar, maka kualitas udara menjadi rusak, iklim akan berubah. Akhirnya terjadi hujan ekstrem dan mengakibatkan banjir dan longsor. Satu ketidakseimbangan menimbulkan efek domino bagi aspek-aspek lainnya.

Begitu pula dalam kehidupan sosial. Jika sebagian orang berlaku curang dalam bisnis, menipu dan merugikan orang lain, maka hilanglah kepercayaan. Akibatnya, ekonomi masyarakat menjadi tidak stabil. Kerusakan moral selalu diikuti kerusakan sosial dan ekonomi. Walhasil, kondisi keamanan dan ketertiban dalam masyarakat terganggu.

Keseimbangan spiritual pun demikian. Hati manusia ibarat pusat gravitasi. Jika hati cinta dunia secara berlebihan, ia kehilangan arah. Ia mudah goyah oleh godaan, mudah runtuh oleh ujian, dan mudah terlena pada hal-hal yang melemahkan iman.

Baca Juga: Khutbah Jumat: Melestarikan Alam Menyelamatkan Kehidupan

Namun ketika hati dibalut dengan zikrullah, disucikan dengan taubat, dan dipenuhi dengan rasa syukur, maka ia akan kuat dan mampu menghadapi segala ujian kehidupan.

Keseimbangan alam, keseimbangan kehidupan sosial, dan keseimbangan spiritual manusia, ketiganya saling terkait satu dengan yang lainnya.

Ma’asyiral Muslimin, hafidzakumullah

Para ulama memberikan panduan bagaimana manusia mampu menjaga keseimbangan dalam kehidupan, antara lain:

Baca Juga: Khutbah Jumat: Jangan Pernah Berhenti Menyuarakan Al-Aqsa

Pertama, menjalankan ibadah dengan istiqamah dan bekerja dengan sungguh-sungguh.

Allah ﷻ tidak pernah menyuruh manusia meninggalkan kehidupan duniawi untuk mengejar akhirat, tetapi memerintahkan kita menjalankan keduanya dengan seimbang.

Ibadah dan bekerja, ibarat dua sayap yang saling melengkapi. Bekerja dengan tidak meninggalkan ibadah, beribadah dengan khusyu’ tanpa meninggalkan tanggung jawab terhadap keluarga dan (sosial) lingkungan sekitar. Itulah keseimbangan dalam diri manusia.

Kedua, tidak melakukan perusakan alam, mulai dari hal-hal yang kecil: membuang sampah pada tempatnya, menggunakan energi secukupnya, serta ikut menjaga kebersihan lingkungan. Langkah kecil itu semua merupakan implementasi nyata dari keimanan dan ketakwaan kita.

Ketiga, mengendalikan hawa nafsu. Nafsu yang tidak terkontrol akan membawa manusia kepada ketamakan dan kerakusan, yang merusak diri sendiri, kehidupan sosial juga alam sekitar.

Seseorang yang mampu mengendalikan hawa nafsu, maka ia akan menjadi lebih bijak dan bertanggung jawab dalam tindakannya.

Keempat, menghidupkan budaya peduli, kebersamaan dan gotong royong dalam arti yang sebenarnya.

Ketika kita menolong sesama, menguatkan yang lemah dan membantu yang membutuhkan, maka hakikatnya kita sedang memperbaiki keseimbangan sosial. Kepedulian adalah jembatan yang menyambungkan hati-hati manusia, menghapus kesenjangan, dan menumbuhkan kasih sayang dalam kehidupan masyarakat.

Kelima, terus belajar memahami tanda-tanda kebesaran Allah ﷻ. Dengan merenungkan ayat-ayat kauniyah di alam raya ini, manusia akan mampu mengambil hikmah dari setiap peristiwa.

Semoga kita menjadi bagian dari generasi yang mampu menjaga keseimbangan dalam setiap aspek kehidupan. Amiin Ya Rabbal Alamiin.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَٰذَا وَأَسْتَغْفِرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ . اِنَّهٗ هُوَ الْبَرُّ الرَّحِيْمِ.

Khutbah ke-2

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ اَمَرَنَا بِلُزُوْمِ اْلجَمَاعَةِ، وَنَهَانَا عَنِ اْلاِخْتِلَافِ وَالتَفَرُّقَةِ، وَاْلصَّلَاةُ وَالسَّلآ مُ عَلٰى نَبِيِّ الرَّحْمَةِ، وَعَلٰى اٰلِهِ وَاَصْحَا بِهِ هُدَاةِ اْلاُمَّةِ، أَمَّا بَعْدُ. فَيَآيُّهَا اْلمُسْلِمُوْنَ، اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِى بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ اْلمُتَّقُوْنَ، إِنَّ اللَّهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيهِ بِنَفْسِهِ، وَثَنَّى بِمَلَائِكَةِ قُدْسِهِ، وَثَلَّثَ بِكُمْ أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ مِنْ جِنِّهِ وَإِنْسِهِ. فَقَالَ اللهُ تَعاَلَى أَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنَ الَّشيْطَانِ الرَّجِيْم  ،إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهٗ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللَٰهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ، اَللّٰهُمَّ احْيِى الْمُسْلِمِيْنَ وَاِمَامَهُمْ بِجَمَاعَةِ الْمُسْلِمِيْنَ اَيْ حِزْبِ اللّٰهِ حَيَاةً كَامِلَةً طَيِّبَةً وَارْزُقْهُمْ قُوَّةً غَالِبَةً عَلَى كُلِّ بَاطِلٍ وَظَالِمٍ وَفَاحِشٍ وَمُنْكَرٍ يَارَبَّ الْعَالَمِيْنَ . اللّٰهُمَّ انْصُرْ اِخْوَانَنَآ المُجَا هِدِيْنَ فِى فِلِسْطِيْنِ وَفِى كُلِّ مَكَانٍ .اللّٰهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ آْلمُوَحِّدِيْنَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ مِنْ بَلَدِنَاهَذَا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً، يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَاللهِ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ- وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

Mi’raj News Agency (MINA)

Rekomendasi untuk Anda